Abadi dan Abadaya: Perjalanan 2000 Tahun

 **Judul: Abadi dan Abadaya: Perjalanan 2000 Tahun**


Pada tahun 2024, Yhuda Elsadai adalah seorang lelaki berusia 28 tahun yang menjalani hidupnya dengan damai di Jakarta, Indonesia. Setiap hari ia bangun di pagi hari untuk memulai pekerjaannya sebagai seorang desainer grafis. Ia memiliki kehidupan yang bahagia bersama kekasihnya, Maretha Handayani, dan ibunya, Ria Simorangkir. Namun, semuanya berubah saat suatu malam Tuhan berbicara langsung kepadanya.


**Bab 1: Tugas Ilahi**



Suatu malam yang seakan-akan biasa, Yhuda sedang duduk di balkon apartemennya, menatap bintang-bintang. Tiba-tiba, seberkas cahaya terang muncul di depannya. Kemudian, sebuah suara lembut namun penuh wibawa terdengar.


"Yhuda Elsadai, Aku memiliki tugas untukmu."


Yhuda terkejut setengah mati, "Siapa yang berbicara?"


"Aku adalah Tuhanmu, Yahweh. Aku mengutusmu kembali ke tahun 1 masehi untuk menjadi saksi kelahiran Mesias di bumi. Sebagai gantinya, kau akan hidup selamanya, tanpa penyakit dan tanpa terluka."


Tuhan memberitahukan Yhuda bahwa ia harus membawa sahabat karibnya, Muhamad Arthur, dalam perjalanan ini.


**Bab 2: Pembekalan dan Perpisahan**


Setelah percakapan itu, Yhuda mendatangi Arthur dan menceritakan semuanya. Awalnya Arthur terkejut, namun ia percaya pada sahabatnya dan bersedia menerima tugas tersebut. Mereka berdua menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan, termasuk handphone dan charger surya. Yhuda juga harus berpamitan kepada Maretha dan ibunya, Ria. Ini merupakan momen yang penuh air mata dan perasaan campur aduk.


"Aku akan kembali, Maretha. Aku janji," Yhuda berusaha meyakinkan kekasihnya, meskipun ia sendiri tidak tahu kapan bisa menepati janjinya.


"Yhuda, tolong berjanjilah untuk tetap hidup dan kembali pada kami," pinta ibunya dengan suara bergetar.


**Bab 3: Lompatan Waktu**


Dalam sekejap mata, Yhuda dan Arthur berada di tahun 1 masehi. Mereka sadar bahwa perbekalan mereka sangat terbatas dan mereka harus belajar cara hidup di zaman itu. Mereka berteman dengan penduduk setempat, termasuk seorang lelaki bijaksana bernama Yosef, yang menunjukkan mereka cara-cara bertahan hidup. Mereka kemudian melihat sebuah bintang dengan cahaya luar biasa yang tidak seperti yang lain.


"Bintang itu berbeda," kata Arthur dengan lembut.


Mereka berdua, bersama Yosef, mengikuti arah bintang tersebut hingga akhirnya mereka sampai di sebuah kandang domba di Betlehem. Mereka menyadari bahwa mereka berada pada momen paling sakral dalam sejarah manusia, kelahiran Mesias. Dengan penuh kekaguman, mereka mengabadikan momen tersebut dengan memotret Yusuf, Maria, dan bayi Yesus menggunakan handphone yang mereka bawa.



**Bab 4: Mengawasi dari Jauh**


Mereka mengerti bahwa mereka tidak boleh terlalu dekat dengan Mesias, khawatir masa depan akan berubah. Namun, mereka tetap mengawasi perjalanan hidup Yesus dari kejauhan, sambil terus mendokumentasikannya. Setiap mukjizat, setiap khotbah, dan setiap langkah-Nya diabadikan dalam bentuk foto-foto yang nantinya akan menjadi saksi bisu perjalanan sang Juruselamat.


Momen paling menggetarkan adalah saat penyaliban Yesus. Yhuda dan Arthur mencoba sekuat tenaga untuk tidak terlibat, namun hati mereka hancur melihat penderitaan Sang Mesias. Mereka memotret setiap momen dari penangkapan Yesus hingga kebangkitannya dari kubur, saat batu kuburan-Nya terpental.


**Bab 5: Kehidupan Seabad Kenangan**


Setelah misi mereka selesai, Tuhan memberikan mereka kehidupan abadi seperti yang dijanjikan. Tantangan mereka di masa depan tidaklah berkurang. Mereka harus menjalani hidup selama 2000 tahun, terus belajar, beradaptasi, dan mencari cara untuk tetap bertahan hidup.


Yhuda dan Arthur menjadi murid dari berbagai guru, belajar seni bertahan hidup, kepemimpinan, dan ilmu pengetahuan yang ada di sepanjang zaman. Mereka menyaksikan kelahiran dan jatuhnya kerajaan-kerajaan, mereka terlibat dalam berbagai pertempuran, dan mereka belajar banyak bahasa dan budaya.


**Bab 6: Ambisi Politik**


Pada salah satu momen sejarah yang penting, Yhuda dan Arthur melihat peluang untuk menyatukan beberapa kerajaan yang sedang bertikai menjadi satu negara yang kuat. Dengan pengetahuan yang mereka kumpulkan selama berabad-abad, mereka berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan tersebut dan mendeklarasikannya sebagai satu negara yang makmur.


Selama 1500 tahun pertama, mereka berdua berhasil memimpin negara tersebut dengan bijaksana, menjadi Presiden dan Wakil Presiden yang dihormati. Kepemimpinan mereka berdasarkan pada nilai-nilai yang diajarkan oleh Mesias dan pengalaman panjang mereka dalam sejarah.


**Bab 7: Kembali ke Masa Sekarang**


Tahun 2024 Masehi tiba kembali setelah perjalanan panjang mereka. Yhuda dan Arthur kembali ke masa yang dolu mereka tinggalkan. Cinta mereka untuk keluarga, kekasih, dan negara tetap utuh meskipun tubuh mereka tidak berubah.


Yhuda kembali bertemu dengan Maretha dan ibunya, dalam bentuk yang masih muda dan sehat. Perjalanan mereka selama 2000 tahun tidak mengubah niat mereka untuk kembali pada orang-orang yang mereka cintai.


"Tuhan telah memberiku kesempatan untuk kembali kepada kalian, dan aku bersyukur untuk itu," kata Yhuda dengan mata berkaca-kaca.


**Bab 8: Penutupan**


Yhuda dan Arthur terus hidup sebagai saksi bisu dari sejarah panjang manusia, menggunakan kebijaksanaan mereka untuk membimbing generasi baru. Mereka menemukan bahwa cinta, pengorbanan, dan tekad tidak pernah berubah, meskipun waktu terus berjalan.


Dalam hati mereka, masa depan yang lebih baik adalah misi abadi yang terus mereka perjuangkan, memastikan bahwa warisan Mesias dan nilai-nilai kemanusiaan selalu terus hidup.


Dengan demikian, mereka memulai babak baru dalam hidup mereka, selalu mengingat perjalanan panjang yang telah mereka tempuh, demi harapan yang lebih baik untuk masa depan umat manusia.

Komentar