Presiden Yhuda Elsadai dan SDN 7: Kunjungan Istimewa
Pagi itu, suasana di SDN 7 berbeda dari biasanya. Siswa-siswi telah berbaris rapi di lapangan, mengenakan seragam putih merah yang tampak lebih rapi dari biasanya. Para guru berdiri di depan ruang guru, sesekali berbisik dan tersenyum penuh antusiasme. Hari ini mereka kedatangan tamu istimewa: Presiden Republik Indonesia, Yhuda Elsadai, yang melakukan kunjungan mendadak ke sekolah ini.
Presiden Yhuda menaiki podium sederhana di lapangan, bersiap memimpin upacara bendera. Dengan sikap tenang dan kharismatik, ia membuka upacara dengan suara yang lantang, tetapi tetap hangat, memotivasi siswa-siswi untuk belajar dengan sungguh-sungguh.
"Anak-anak, pendidikan adalah jendela dunia. Dari sinilah kalian bisa melihat masa depan yang lebih baik. Jadilah generasi yang tangguh, jujur, dan penuh semangat. Siapa tahu, dari sini akan lahir presiden Indonesia berikutnya!" ucap Yhuda dengan senyum.
Para siswa bersorak riuh, sementara para guru bertepuk tangan bangga. Yhuda melanjutkan pidatonya dengan pujian kepada sekolah yang telah mencetak banyak murid berprestasi. Setelah upacara selesai, ia menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar sekolah, berbincang dengan siswa dan guru.
Di ruang guru, Presiden Yhuda disambut dengan minuman dan camilan tradisional. Ia berbicara santai dengan para guru, membuat suasana lebih cair.
"Pak Presiden, terima kasih telah meluangkan waktu ke sekolah kami. Ini benar-benar kehormatan besar," ujar Kepala Sekolah, Bu Rita.
"Saya yang harus berterima kasih, Bu Rita. Sekolah seperti ini adalah fondasi bangsa. Tanpa guru dan murid yang hebat, tidak ada Indonesia yang kuat," jawab Yhuda.
Di sela-sela obrolan, pandangan Yhuda tertuju pada seorang guru perempuan yang duduk di sudut. Wanita itu tampak cantik dalam kesederhanaannya, mengenakan seragam guru berwarna krem. Itu adalah Maretha Handayani, guru bahasa Inggris. Ia tampak sibuk mencatat sesuatu di buku kerjanya, tidak menyadari bahwa Presiden Yhuda memperhatikannya.
Saat acara selesai dan Yhuda berpamitan dengan para guru, ia mendekati Maretha.
"Halo, Bu Maretha, ya? Bisa ngobrol sebentar?" tanyanya dengan nada ramah.
Maretha terkejut. "Iya, Pak Presiden... Maksud saya, Pak Presiden Yhuda. Ada yang bisa saya bantu?"
Yhuda tersenyum kecil. "Kamu temenin saya ya makan siang. Urusan ngajar kamu, saya yang urus dengan kepala sekolah. Kamu pulang sekarang bersama saya, ya?"
Maretha terlihat bingung, tapi ia tidak bisa menolak permintaan seorang presiden. Yhuda kemudian memerintahkan kepala sekolah untuk mengurus surat dinas luar bagi Maretha.
Dalam Perjalanan ke RSCM
Di dalam mobil mewah yang melaju di jalanan Jakarta, Yhuda duduk santai di samping Maretha. Mereka berbicara dalam suasana yang lebih santai.
"Tulang gimana kabarnya, Ta?" tanya Yhuda tiba-tiba.
Maretha menoleh bingung. "Maksudnya Tulang, Pak? Tulang itu maksudnya paman dalam adat Batak."
Yhuda tertawa kecil. "Iya, maksud saya bapak kamu gimana kabarnya?"
Maretha terlihat sedih. "Bapak saya sedang sakit, Pak."
"Sakit apa, Ta?"
"Kanker nasofaring, Pak Presiden," jawab Maretha pelan.
Yhuda terdiam sejenak, lalu bercanda, "Itu berarti ganas ya?"
Maretha tersenyum kecil. "Kalau kanker pasti ganas, Pak Presiden."
Yhuda tertawa. "Maaf, saya cuma bercanda. Sekarang bapak di rumah atau di rumah sakit?"
"Di RSCM, Pak," jawab Maretha.
"Kalau begitu, ayo kita ke sana," ucap Yhuda dengan nada tegas.
Maretha terkejut. "Ke RSCM, Pak? Tapi kenapa?"
"Apa salahnya? Saya cuma ingin tahu kabar bapak kamu lebih lanjut," kata Yhuda sambil tersenyum hangat.
Di perjalanan, Yhuda mengajaknya berbincang santai.
"Maretha, kamu sudah berapa lama jadi guru di SDN 7?" tanya Yhuda.
"Sudah lima tahun, Pak Presiden," jawab Maretha.
"Senang jadi guru?"
"Senang, Pak. Walaupun tantangannya banyak, tapi melihat murid-murid belajar dan berkembang itu kebahagiaan tersendiri," katanya.
"Hebat kamu. Tidak banyak orang yang mau mengabdi seperti itu," kata Yhuda dengan nada bangga.
Maretha tiba-tiba bertanya, "Pak Presiden, kenapa saya diajak makan siang dan sekarang ke RSCM? Apakah ada alasan khusus?"
Yhuda tersenyum misterius. "Mungkin saya hanya merasa kamu istimewa, Ta."
Maretha terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Sementara itu, mobil terus melaju menuju RSCM, membawa mereka ke momen yang akan mengubah segalanya.
(To be continued...)
Part 2: Rahasia di Balik Waktu
Di dalam mobil yang meluncur dengan kecepatan sedang menuju RSCM, suasana di antara Yhuda dan Maretha terasa berbeda. Awalnya canggung, tapi Yhuda mencoba mencairkan suasana dengan senyumnya yang hangat.
Yhuda: "Saya tadi cuma bergurau, Ta. Jangan salah paham. Tapi, biar kita ngobrol lebih santai, gimana kalau kamu panggil saya Yud aja? Biar nggak terlalu formal."
Maretha: (tertawa kecil) "Pak Presiden, saya agak bingung gimana caranya manggil seorang kepala negara dengan santai seperti itu. Bukannya nggak sopan ya, Pak?"
Yhuda: (tersenyum) "Maretha, ada alasannya kenapa saya minta kamu manggil saya Yud."
Maretha: (bingung) "Alasan apa, Pak? Eh, maksud saya, Yud?"
Yhuda: (tersenyum puas) "Nah, itu bisa, Ta. Kamu percaya nggak sama time travel?"
Maretha: (tertawa kecil, mengira bercanda) "Time travel? Kok tiba-tiba ngomongin begitu? Jangan bercanda, Yud."
Yhuda: (dengan nada serius) "Aku nggak bercanda, Ta. Aku adalah pacar kamu di garis waktu sebelumnya. Aku ini time traveler."
Maretha: (terkejut, hampir tersedak) "Apa? Pacar? Time traveler? Ini bercanda, kan?!"
Yhuda: "Aku serius, Ta. Di garis waktu sebelumnya, kita pacaran. Dan aku kembali ke sini karena ada hal yang harus aku perbaiki."
Maretha: (bingung percaya atau tidak) "Ini nggak masuk akal, Yud. Kalau benar, kasih aku bukti. Gimana aku tahu kamu bukan cuma bicara ngelantur?"
Yhuda: (tersenyum misterius) "Oke. Ini rahasia yang cuma aku tahu. Di tengah belahan dada kamu, ada tanda lahir berupa tahi lalat kecil, kan?"
Maretha: (terperangah, wajahnya memerah) "Loh... Kok kamu tahu? Itu kan... itu cuma aku yang tahu!"
Yhuda: (tersenyum lembut) "Karena aku memang benar pacar kamu di garis waktu sebelumnya, Ta."
Maretha terdiam, pikirannya penuh dengan pertanyaan. Bagaimana mungkin seorang presiden mengetahui detail seperti itu? Perlahan, rasa percaya mulai tumbuh, tapi ia tetap ingin bukti lain.
Maretha: "Kalau kamu benar, coba kasih bukti lain. Aku masih belum sepenuhnya yakin."
Yhuda: (mengeluarkan ponselnya) "Oke, lihat ini. Ini foto-foto kita dulu. Di garis waktu sebelumnya, kita sering pergi ke taman ini setiap akhir pekan."
Maretha melihat deretan foto di galeri ponsel Yhuda. Ia terkejut melihat dirinya yang lebih muda bersama Yhuda, tersenyum bahagia di berbagai tempat. Ada foto mereka di taman, di sebuah restoran kecil, bahkan di depan rumahnya sendiri.
Maretha: (tercengang) "Ini... ini benar-benar aku. Tapi gimana bisa? Foto-foto ini nggak pernah aku ambil. Ini nggak mungkin diedit... Aku kelihatan sangat nyata."
Yhuda: "Karena ini nyata, Ta. Di garis waktu sebelumnya, kita menjalani semuanya bersama. Aku bahkan tahu hal-hal kecil tentang kamu. Misalnya, kamu paling suka teh manis hangat dibandingkan kopi."
Maretha: (masih bingung) "Tapi kenapa, Yud? Kenapa kamu ada di sini sekarang? Kenapa kamu jadi presiden? Apa tujuan kamu?"
Yhuda: "Itu cerita panjang, Ta. Intinya, ada sesuatu yang harus aku ubah di garis waktu ini. Dan salah satunya adalah memastikan kamu bahagia. Aku nggak bisa biarkan garis waktu ini jadi seperti sebelumnya."
Maretha: (perlahan mulai percaya) "Aku nggak tahu harus bilang apa. Ini semua seperti mimpi."
Yhuda: "Ini memang sulit dipercaya, tapi aku di sini sekarang untuk kamu. Percayalah, aku nggak akan biarkan apa pun terjadi sama kamu atau keluarga kamu."
Mobil melaju mendekati RSCM. Maretha masih diam, mencoba mencerna semuanya. Ia sesekali mencuri pandang ke arah Yhuda, melihat keseriusan di wajah pria itu. Di dalam hati kecilnya, ia mulai percaya bahwa pria di sampingnya ini memang membawa kebenaran yang luar biasa.
Maretha: "Yud, kalau semua ini benar, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Maksudku, tentang kita?"
Yhuda: (tersenyum kecil) "Untuk sekarang, aku ingin pastikan bapak kamu baik-baik saja. Sisanya, kita lihat nanti, ya?"
Maretha: (tersenyum pelan) "Kamu tahu? Kamu nggak berubah. Masih aneh seperti dulu."
Yhuda: (tertawa) "Dan kamu masih suka nyindir seperti biasa."
Mobil pun berhenti di depan RSCM. Perjalanan waktu dan kenyataan baru ini baru saja dimulai.
Perjalanan Waktu dan Rahasia Abadi
Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan stabil menuju RSCM, Maretha duduk diam. Meski ia mencoba menenangkan diri, kepalanya penuh dengan kebingungan dan pertanyaan. Perkataan Yhuda tadi terasa seperti cerita dongeng yang tidak masuk akal. Namun, entah mengapa, aura dan nada serius Yhuda membuatnya sulit untuk mengabaikan.
Maretha: "Jadi, kenapa tiba-tiba kamu jadi presiden? Dan kenapa kamu langsung ingin ke tempat bapak aku?"
Yhuda: (menarik napas panjang) "Salah satu alasan aku kembali ke garis waktu ini adalah untuk mempelajari banyak hal. Kamu tahu nggak, aku sebenarnya sudah hidup selama lebih dari dua ribu tahun? Tepatnya, aku sudah 2050 tahun hidup, tapi di tubuh ini, aku tetap 28 tahun."
Maretha: (membelalak) "Apa?! 2050 tahun? Maksudmu... kamu abadi?"
Yhuda: (tersenyum kecil) "Betul. Aku kembali ke abad pertama, Ta. Waktu itu aku bertemu Yesus. Beliau memberkati aku dan memberiku kehidupan yang abadi sampai sekarang. Tapi bukan cuma itu."
Maretha: (masih bingung) "Tunggu dulu. Bertemu Yesus? Diberkati? Kamu serius? Ini semua kedengarannya seperti cerita fantasi."
Yhuda: "Aku tahu ini sulit dipercaya. Tapi ini kenyataan. Salah satu berkat yang diberikan Tuhan kepadaku adalah kemampuan untuk memanggil dewi atau dewa dari berbagai dimensi, masing-masing dengan kemampuan mereka."
Maretha: (tercengang) "Apa? Dewi? Dewa? Kamu ngomong apa sih, Yud? Tuhan Yesus dan dewi-dewi? Aku nggak paham!"
Yhuda: (tersenyum sabar) "Aku tahu kamu bingung, Ta. Tapi dengarkan. Misalnya, ada Dewi Panen. Jika aku memanggilnya, dia bisa membantu rakyat untuk mendapatkan panen yang melimpah. Atau ada dewa lain yang bisa menyembuhkan penyakit."
Maretha: (menggeleng-geleng) "Aku benar-benar nggak ngerti, Yud. Jadi, maksud kamu, kamu juga semacam... semacam penyelamat atau sesuatu?"
Yhuda: "Aku nggak mau disebut begitu. Aku cuma melakukan apa yang harus aku lakukan. Dan salah satu alasan aku kembali ke garis waktu ini adalah untuk menyelamatkan kamu dan keluargamu. Bapakmu sekarang sakit, dan aku bisa membantunya sembuh."
Maretha: "Tunggu. Apa maksudmu? Kamu mau pakai... dewa-dewi itu untuk bantu bapak aku?"
Yhuda: "Bukan cuma itu. Aku juga punya kemampuan untuk melakukan ritual penyembuhan. Tapi kita harus membawa bapakmu pulang dari RSCM dulu. Di rumah, aku bisa melakukannya dengan lebih leluasa."
Maretha: (bingung) "Ritual? Ini semakin nggak masuk akal. Aku bahkan belum yakin sepenuhnya kalau kamu benar-benar pacarku di garis waktu sebelumnya."
Yhuda: (tersenyum) "Kamu nggak perlu percaya sekarang. Tapi nanti, kamu akan melihat sendiri. Aku cuma minta kamu percaya sedikit saja untuk saat ini."
Maretha: "Dan kamu bilang kamu penemu negeri ini? Maksudnya, Indonesia?"
Yhuda: "Ya. Di garis waktu ini, aku memastikan Indonesia lahir sebagai negeri yang kuat. Aku membantu membentuk fondasinya, bahkan sebelum bangsa ini punya nama."
Maretha: (mengerutkan dahi) "Jadi, kamu bukan cuma presiden, tapi juga... semacam pendiri?"
Yhuda: "Tepat sekali. Dan itulah kenapa aku tahu banyak hal tentang sejarah, bahkan yang nggak pernah dicatat. Tapi itu cerita untuk lain waktu. Sekarang fokus kita adalah bapakmu."
Maretha: "Jadi, kamu mau bilang kalau semua ini terjadi karena kamu punya misi besar untuk memperbaiki dunia?"
Yhuda: "Kurang lebih begitu. Tapi untuk sekarang, aku ingin memastikan kamu dan keluargamu baik-baik saja. Itu prioritas utamaku."
Maretha: "Aku masih nggak tahu harus percaya atau nggak. Tapi... kalau kamu bisa menyembuhkan bapak aku, mungkin aku akan percaya."
Yhuda: (tersenyum hangat) "Itu sudah cukup, Ta. Percaya sedikit saja, dan aku akan menunjukkan lebih banyak bukti nanti."
Mobil akhirnya tiba di RSCM. Yhuda melangkah keluar dengan percaya diri, sementara Maretha mengikutinya, masih tenggelam dalam pikirannya. Di dalam hatinya, ada sedikit harapan bahwa mungkin, hanya mungkin, pria di sampingnya ini benar-benar membawa keajaiban yang ia butuhkan.
(To be continued...)
Rahasia dari Masa Depan
Saat Maretha masih berusaha mencerna penjelasan Yhuda yang baginya terlalu fantastis, pria itu mengeluarkan ponselnya lagi. Kali ini, ekspresi wajah Yhuda lebih serius. Ia membuka galeri foto dan menampilkan sesuatu yang membuat Maretha tertegun.
Di layar, tampak sebuah foto ibadah di gereja. Sebuah peti kayu terlihat di depan altar, dihiasi bunga-bunga putih. Di sekitarnya, keluarga Maretha menangis dengan wajah penuh duka. Maretha menatap foto itu dengan kening berkerut.
Maretha: "Yud... apa ini? Kenapa ada foto seperti ini di ponselmu?"
Yhuda menggeser foto ke gambar berikutnya. Kali ini, tampak lebih jelas: bapaknya Maretha yang sudah terbaring di peti mati. Wajahnya terlihat damai, tetapi jelas bahwa itu adalah sosok yang sudah tiada.
Maretha: (terperangah, matanya mulai berair) "Yud... kenapa ada foto bapak aku seperti ini? Maksudmu apa?"
Yhuda: (dengan nada lembut tapi tegas) "Ta, ini yang akan terjadi kalau kita nggak bertindak cepat. Bapakmu akan meninggal dalam waktu dua bulan."
Maretha: (berusaha menyangkal) "Nggak mungkin... ini nggak mungkin! Kamu cuma bercanda, kan?! Kamu cuma edit foto ini, kan?!"
Yhuda: (menggeleng pelan) "Aku nggak bercanda, Ta. Aku berharap ini nggak perlu terjadi, tapi aku melihat semua ini dengan mataku sendiri. Ini adalah takdir yang akan terjadi kalau kita nggak bertindak sekarang."
Ia menggeser lagi fotonya. Kali ini, tampak peti mati bapaknya Maretha diangkat masuk ke dalam pesawat. Di latar belakang, terlihat tulisan bandara internasional yang tidak asing bagi Maretha.
Maretha: (suara gemetar) "Ini... diangkut ke pesawat? Untuk apa? Mau dibawa ke mana?"
Yhuda: "Ke kampung halaman kalian. Ke Muara, di dekat Danau Toba. Di garis waktu ini, bapakmu akan dimakamkan di sana. Aku bahkan punya foto-foto penguburannya."
Yhuda menggeser lagi galeri fotonya. Kali ini, tampak gambar keluarga besar Maretha berkumpul di sekitar makam yang masih terbuka. Tangan Maretha mulai gemetar.
Maretha: (menahan tangis) "Ini... ini nggak mungkin. Kamu bilang dua bulan lagi? Tapi bapak kelihatan baik-baik saja sekarang, cuma sakit biasa!"
Yhuda: (menghela napas) "Ta, aku tahu ini sulit diterima. Tapi kanker yang bapakmu derita sudah terlalu parah. Di garis waktu ini, pengobatan modern nggak akan cukup. Itulah kenapa aku datang. Aku nggak bisa biarkan ini terjadi."
Maretha menutup mulutnya, berusaha menahan isak. Wajahnya penuh kebingungan dan kesedihan. Ia menatap Yhuda, mencoba mencari jawaban di mata pria itu.
Maretha: "Jadi... kamu kembali ke sini untuk menyelamatkan bapak aku? Kenapa? Kenapa kamu peduli sejauh itu?"
Yhuda: (dengan nada serius) "Karena aku peduli sama kamu, Ta. Di garis waktu sebelumnya, aku kehilangan kamu. Aku nggak mau itu terjadi lagi. Dan kali ini, aku akan memastikan keluargamu juga baik-baik saja."
Maretha: (mulai percaya) "Kalau kamu tahu semua ini, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa benar bapak masih bisa disembuhkan?"
Yhuda: "Bisa. Tapi kita harus membawa bapakmu pulang ke rumah. Di sana, aku bisa melakukan ritual penyembuhan. Aku nggak bisa melakukannya di rumah sakit, terlalu banyak batasan."
Maretha: "Ritual? Maksudnya seperti apa? Kamu serius soal dewi-dewi itu?"
Yhuda: (tersenyum kecil) "Aku tahu kedengarannya aneh. Tapi kamu akan melihat sendiri nanti. Percayalah, aku nggak akan bohong."
Maretha terdiam lama. Ia menatap layar ponsel Yhuda lagi, melihat gambar-gambar yang rasanya seperti bayangan masa depan yang mengerikan. Sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa semua ini benar, meskipun sulit diterima.
Maretha: (dengan suara pelan) "Baiklah, Yud. Aku akan percaya sama kamu. Kalau ini untuk menyelamatkan bapak, aku nggak peduli betapa anehnya semua ini."
Yhuda: (tersenyum lega) "Terima kasih, Ta. Itu semua yang aku butuhkan. Kepercayaanmu."
Mobil mulai memasuki kawasan RSCM. Maretha menghapus air matanya dan mengambil napas panjang. Meskipun masih ada keraguan dalam hatinya, ia tahu bahwa pria di sampingnya ini membawa sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkan bapaknya.
Yhuda: "Siap, Ta? Kita akan temui bapakmu sekarang. Kita ajak dia pulang dan mulai langkah pertama."
Maretha: (mengangguk) "Siap. Aku cuma berharap semua yang kamu bilang benar."
Mobil berhenti di depan RSCM, membawa mereka ke awal dari misi besar yang akan mengubah hidup Maretha dan keluarganya.
(To be continued...)
Di RSCM: Kehormatan kepada Yhuda
Sesampainya di RSCM, suasana berubah begitu mereka melangkah masuk. Semua orang, dari staf medis hingga pejabat rumah sakit, secara otomatis menunduk menghormati Yhuda. Tidak ada yang berani menyapa atau mempertanyakan kehadirannya. Tanpa perlu ke resepsionis, Yhuda langsung mengarahkan langkah menuju ruangan tempat ayah Maretha dirawat.
Ketika pintu ruangan terbuka, mereka mendapati ibu Maretha duduk di kursi samping tempat tidur, terlihat lelah namun tetap setia menemani suaminya. Ia terkejut melihat sosok Yhuda memasuki ruangan.
Ibu Maretha: "Yhuda? Astaga, kenapa Presiden tiba-tiba ada di sini?"
Yhuda: (tersenyum hangat) "Halo, Nang. Bagaimana kabar Tulang?"
Ibu Maretha berdiri, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia merasa ada sesuatu yang besar di balik kunjungan ini.
Ibu Maretha: "Presiden... maaf, maksud saya Yhuda... kabar Tulang seperti yang Maretha bilang. Tapi... ini kehormatan besar bagi kami. Saya tidak tahu harus berkata apa."
Namun, mata Yhuda segera tertuju ke tempat tidur. Di sana, bapak Maretha berbaring, tubuhnya kurus kering dengan wajah pucat yang hampir tidak bisa dikenali lagi. Wajah Yhuda berubah serius.
Yhuda: (mendekati tempat tidur) "Tulang... apa kabar? Saya datang untuk membantu."
Bapak Maretha membuka matanya perlahan, melihat Yhuda dengan pandangan lemah namun penuh penghargaan.
Bapak Maretha: "Oh... Presiden... terima kasih sudah datang. Tapi saya sudah... terlalu lemah. Ini takdir saya."
Yhuda: (dengan nada tegas) "Jangan bicara seperti itu, Tulang. Kita bisa mengubah ini. Saya akan membawa Tulang pulang sekarang. Di sini, Tulang tidak akan sembuh."
Ibu Maretha tampak ragu.
Ibu Maretha: "Tapi, bagaimana mungkin? Dokter bilang dia butuh perawatan intensif di sini. Kalau dibawa pulang, apa tidak berbahaya?"
Yhuda: (menatap mata ibu Maretha) "Nang, percayalah pada saya. Tidak ada yang lebih baik daripada bersama keluarga di rumah. Di sana, saya bisa melakukan sesuatu yang dokter di sini tidak bisa."
Setelah sedikit perdebatan, akhirnya ibu Maretha setuju. Para dokter dan perawat yang menghormati Yhuda bahkan tidak berusaha menghalangi. Mereka memindahkan bapak Maretha ke kursi roda dan membantunya masuk ke dalam mobil yang telah menunggu di depan rumah sakit.
Di Mobil: Keheningan dan Sebuah Kejutan
Di dalam mobil, Yhuda duduk di kursi depan sebagai penumpang, sementara Arthur, wakil presiden Indonesia, mengambil posisi sebagai sopir. Di kursi belakang, Maretha duduk bersama ibu dan bapaknya. Maretha diam saja, tampak gelisah dan sesekali mengusap matanya yang masih basah.
Yhuda: (melihat ke belakang melalui kaca spion) "Tulang, perjalanan ini tidak akan lama. Begitu kita sampai di rumah, saya akan memulai proses penyembuhan."
Bapak Maretha: (suara lemah) "Apa... apa maksudmu? Apa yang bisa kamu lakukan yang tidak bisa dilakukan dokter?"
Yhuda: (tersenyum kecil) "Tulang, ada banyak hal di dunia ini yang tidak semua orang tahu. Tuhan memberiku kemampuan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Percayalah, saya tidak akan datang sejauh ini kalau tidak yakin bisa menolong."
Arthur melirik Yhuda sambil mengemudi.
Arthur: "Anda yakin ingin melakukannya malam ini juga, Pak? Ini akan melelahkan."
Yhuda: "Arthur, waktu kita tidak banyak. Dua bulan adalah perkiraan maksimal. Kondisi Tulang lebih buruk dari yang saya duga."
Ibu Maretha menatap Yhuda dengan rasa bingung sekaligus harapan.
Ibu Maretha: "Yhuda, apa kamu benar-benar yakin ini bukan cuma harapan kosong? Maaf, tapi ini terasa seperti mimpi."
Yhuda: (menoleh dan tersenyum) "Nang, kadang-kadang, keajaiban terasa seperti mimpi. Tapi percayalah, ini bukan mimpi."
Di kursi belakang, Maretha hanya memandang ke luar jendela, tenggelam dalam pikirannya. Ia merasa segalanya begitu absurd, namun ia tidak punya alasan untuk meragukan Yhuda lagi.
Yhuda: "Ta, kamu kenalkan Arthur ke ibumu belum?"
Maretha: (terkejut dan bingung) "Arthur? Maksudmu sopir ini?"
Arthur: (tertawa kecil) "Saya bukan sopir, Bu. Saya Arthur, wakil presiden Indonesia. Tapi untuk malam ini, saya lebih memilih menjadi sopir pribadi Pak Presiden."
Ibu Maretha tampak bingung, sementara Maretha menggeleng dengan ekspresi tidak percaya.
Maretha: "Aku benar-benar nggak tahu harus bilang apa lagi hari ini."
Yhuda: (tertawa) "Santai saja, Ta. Kita fokus ke bapak dulu. Semua hal lain bisa kita urus nanti."
Mobil melaju melewati jalanan Jakarta yang lengang di malam hari. Sebuah perjalanan yang terasa seperti langkah pertama menuju keajaiban yang akan mengubah hidup mereka semua.
(To be continued...)
Baik, berikut revisi untuk bagian sebelumnya, sesuai dengan permintaan Anda.
Saat mobil melaju tenang, Maretha tak mampu menahan rasa penasarannya. Ia membuka ponsel dengan tangan gemetar, mengetik di Google: "Rumah Sakit Cipta Maretha pendiri."
Hasil pencarian muncul dengan cepat. Ia membaca judul artikel teratas: "Rumah Sakit Cipta Maretha: Wujud Dedikasi Presiden Yhuda Elsadai." Maretha mengetuk artikel itu.
Artikel tersebut menjelaskan bahwa rumah sakit itu dibangun dengan teknologi medis paling canggih di Asia Tenggara. Namun, satu bagian membuat Maretha tertegun:
"Nama Cipta Maretha dipilih oleh Yhuda Elsadai, sang pendiri, sebagai penghormatan kepada seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Nama tersebut mencerminkan kenangan yang abadi dan rasa hormat mendalam pendiri terhadap inspirasi hidupnya."
Mata Maretha membelalak, dan napasnya tercekat. Ia memandang Yhuda di kursi depan, yang tampak santai berbicara dengan Arthur.
Tak tahan lagi, Maretha menyela.
Maretha: (bingung) "Yud... aku barusan baca sesuatu."
Yhuda: (tersenyum melalui kaca spion) "Oh ya? Apa itu, Ta?"
Maretha: "Tentang rumah sakit itu. Tentang alasan namanya."
Arthur, yang sedang mengemudi, tersenyum tipis.
Arthur: (bercanda) "Lah, Ta, itu kan memang rumah sakit untuk kamu dari awalnya."
Maretha: "Untuk aku? Apa maksudnya, Yud?"
Yhuda: (menoleh sedikit) "Namanya memang untuk kamu, Ta. Karena aku ingin selalu mengingat kamu, tidak peduli sejauh apa kita terpisah."
Maretha: (tertegun) "Kenapa? Kenapa kamu melakukan itu?"
Yhuda: (menatap Maretha dengan lembut) "Karena waktu itu, kamu adalah bagian penting dari hidupku. Aku ingin memastikan namamu tetap hidup, meskipun waktu berjalan dan kita tidak lagi bersama."
Maretha tak mampu berkata-kata. Ia teringat bagaimana selama ini ia merasa tidak istimewa, hanya seorang guru biasa. Namun kini, ia mulai menyadari bahwa pria di depannya, Presiden Yhuda Elsadai, telah membawa namanya ke puncak pengabdian yang ia sendiri tak pernah bayangkan.
Ibu Maretha, yang mendengar percakapan itu namun tak sepenuhnya mengerti, menatap mereka berdua dengan bingung.
Ibu Maretha: "Yhuda, jadi benar kamu yang mendirikan rumah sakit itu? Tapi kenapa untuk Maretha?"
Yhuda: (tersenyum) "Nang, ceritanya panjang. Tapi yang pasti, Maretha pernah menjadi sumber inspirasi besar dalam hidup saya. Rumah sakit itu adalah cara saya berterima kasih, meskipun dia mungkin tidak pernah tahu sebelumnya."
Maretha hanya bisa terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menyadari, ada banyak hal tentang Yhuda yang selama ini tersembunyi, dan perlahan-lahan, semuanya mulai terungkap.
Arthur, yang ingin mencairkan suasana, kembali berseloroh.
Arthur: "Tapi ya, Nang, walaupun awalnya untuk Maretha, kan sekarang rumah sakit itu manfaatnya buat semua orang. Jadi tidak ada salahnya."
Maretha hanya tersenyum kecil, mencoba mencerna apa yang baru saja ia temukan. Di dalam hatinya, rasa syukur dan kebingungan bercampur jadi satu, dan ia tak tahu bagaimana caranya merespons semua ini.
Di Rumah Maretha
Mobil berhenti di sebuah gang sempit. Yhuda mengenakan jaket tebal dengan topi untuk menyamarkan dirinya. Ia menyadari bahwa masuk ke rumah Maretha tanpa menarik perhatian warga setempat adalah hal yang penting. Arthur tetap di dalam mobil, berjaga-jaga, sementara Yhuda membantu Maretha dan ibunya membawa bapaknya masuk ke dalam rumah.
Ruangan tamu rumah Maretha sederhana, dengan sofa tua dan meja kecil. Mereka membaringkan bapaknya Maretha di atas kasur lipat yang ada di sudut ruangan. Yhuda memerhatikan sekeliling, melihat betapa sederhana tempat ini dibandingkan kehidupannya sekarang. Namun, ada kehangatan di rumah itu yang sulit dijelaskan.
Mama Maretha: (tersenyum hangat) "Yhuda, terima kasih sudah mau bantu kami. Kamu sudah makan, Nak? Apa mau makan dulu?"
Yhuda: (tertawa kecil) "Wah, boleh banget, Nang. Kalau ada, aku mau Indomie goreng, ya. Tapi... kalau bisa, sekalian empat bungkus."
Mama Maretha: (terkejut, lalu tertawa) "Empat bungkus? Banyak amat, Nak. Tapi tunggu ya, aku ke warung dulu beli mie-nya."
Mama Maretha keluar rumah, menuju warung di ujung gang. Yhuda melepas jaketnya dan mulai mempersiapkan ritual yang akan ia lakukan. Ia mengeluarkan perangkat kecil dari tasnya—sesuatu yang terlihat modern namun misterius. Maretha memerhatikan dengan bingung.
Maretha: "Yud, kamu serius? Kamu mau melakukan semua ini di sini? Alat-alat itu apa?"
Yhuda: (tersenyum) "Percaya saja, Ta. Ini bukan pertama kalinya aku menyembuhkan penyakit yang lebih parah dari ini. Aku butuh ruang yang tenang, dan yang paling penting, kehadiran keluarga. Itu membantu proses penyembuhan."
Tak lama kemudian, Mama Maretha kembali dengan bahan-bahan yang ia beli dari warung. Aroma Indomie goreng segera memenuhi ruangan kecil itu. Yhuda duduk di lantai ruang tamu, di hadapannya ada sepiring besar berisi empat bungkus Indomie goreng lengkap dengan telur dan irisan cabai.
Mama Maretha: (tertawa kecil) "Nih, Nak, makan dulu. Jangan lupa habiskan, ya."
Yhuda: (tersenyum lebar) "Terima kasih, Nang. Ini pasti enak banget."
Yhuda makan dengan lahap, membuat Mama Maretha tertawa karena cara makannya yang terlihat sederhana meskipun statusnya seorang Presiden.
Mama Maretha: "Yhuda, jadi kamu mau mulai sekarang? Ritual apa yang sebenarnya mau kamu lakukan?"
Yhuda: (mengelap mulutnya setelah selesai makan) "Iya, Nang. Jadi begini, prosesnya akan memakan waktu tiga hari. Saya butuh izin untuk tinggal di sini selama itu. Boleh, ya, Nang?"
Mama Maretha: (tersenyum hangat) "Tentu saja boleh. Tapi, apa yang akan kamu lakukan selama tiga hari itu?"
Yhuda: (serius) "Prosesnya ada beberapa tahap:
- Pertama, aku akan mengecek seluruh detail darah Tulang dengan akurasi tinggi menggunakan alat ini."
(Yhuda menunjukkan perangkat kecil yang ia keluarkan dari tasnya). - Kedua, aku akan mencatat setiap perubahan dan kondisinya secara rinci.
- Ketiga, aku akan mulai memperbaiki jaringan kanker yang sudah menyebar.
- Keempat, aku akan memperbaiki sel darah yang rusak akibat kanker ini.
- Terakhir, aku akan memanggil Tulang Siluman, yaitu proses regenerasi alami yang aku percepat menggunakan metode khusus. Ini membutuhkan waktu tiga hari penuh."
Mama Maretha: (bingung namun percaya) "Nak, apa benar semua ini bisa kamu lakukan? Kalau memang begitu, aku serahkan semuanya ke kamu. Aku percaya kamu."
Yhuda: (tersenyum meyakinkan) "Percaya saja, Nang. Setelah tiga hari, Tulang akan sembuh total. Aku akan pastikan itu."
Mama Maretha tersenyum lega meskipun masih ada sedikit kebingungan dalam dirinya. Maretha, yang duduk di sudut ruangan, hanya memandang Yhuda dalam diam. Ia merasa ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi ia memutuskan untuk menunggu.
Yhuda memulai persiapannya dengan tenang. Dalam hati, ia tahu bahwa tiga hari ini akan menjadi ujian besar, bukan hanya untuk kemampuannya, tetapi juga untuk kepercayaan yang diberikan oleh keluarga Maretha.
Di Rumah Maretha
Setelah menyelesaikan makanannya, Yhuda mengusap mulutnya dan mengedarkan pandangannya ke sekitar ruang tamu yang sederhana itu. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan untuk memulai ritual ini, tetapi juga sadar bahwa energi yang dibutuhkan sangat besar.
Yhuda: (serius, dengan suara rendah) "Aku akan memanggil beberapa dewi, Ta. Setiap dewi yang ku panggil akan menguras banyak sekali energi dari tubuhku. Tapi ini satu-satunya cara agar proses penyembuhan berjalan dengan cepat."
Saat itu, tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah, pintu terbuka, dan Arthur masuk membawa koper besar. Tanpa banyak bicara, Arthur menaruh koper itu di meja dekat Yhuda. Ia kemudian bergegas pergi.
Yhuda membuka koper itu, dan di dalamnya terdapat sejumlah uang yang tersusun rapi.
Yhuda: (menyentuh koper, berbicara dengan serius) "Setiap kali aku selesai dengan ritual dan tertidur, pastikan sebelum aku bangun, makanan sudah siap untukku. Minimal 20 porsi. Ini uangnya, gunakan sebaik-baiknya."
Maretha dan Mama Maretha yang ada di dekatnya hanya bisa menatap kebingungan. Mereka tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi bisa merasakan ada sesuatu yang luar biasa sedang berlangsung.
Yhuda kemudian berdiri tegak dan mulai memusatkan perhatian pada titik tertentu di tengah ruangan. Ia menutup matanya, menggerakkan tangannya dengan gerakan halus. Dari bawah tanah rumah Maretha, cahaya biru mulai memancar pelan-pelan. Dalam sekejap, cahaya itu mengembang dan membentuk sosok yang tak mungkin mereka bayangkan sebelumnya.
Dewi Cuaca muncul di hadapan mereka. Ia mengenakan gaun berbahan awan, rambutnya berkilauan seperti cahaya matahari yang terpantul dari hujan. Mata dewi itu berkilat dengan kekuatan alam yang tak terbendung.
Dewi Cuaca: (dengan suara lembut dan penuh wibawa) "Salam, Tuan Yhuda. Sudah lama sekali, setelah ribuan tahun, Anda tidak memanggil saya. Apa yang bisa saya bantu?"
Yhuda menatapnya dengan penuh harapan.
Yhuda: "Aku butuh bantuanmu, Dewi Cuaca. Rumah ini tidak ada AC, dan selama ritual ini, aku butuh suhu yang stabil di sekitar 19 derajat Celsius. Mampukah kamu melakukan itu untukku?"
Dewi Cuaca: (tersenyum dengan penuh kasih) "Tentu, Tuan Yhuda. Aku akan pastikan suhu rumah ini tetap nyaman selama tiga hari. Tidak ada yang akan mengganggu proses ini."
Cahaya biru di sekitar Dewi Cuaca semakin terang, dan dengan satu gerakan tangan, suhu udara di sekitar mereka langsung terasa sejuk, seperti berada di ruangan ber-AC. Semua merasa nyaman, namun kebingungan masih menghiasi wajah mereka.
Tiba-tiba, Arthur masuk lagi, kali ini membawa buku catatan tebal. Ia duduk di dekat bapak Maretha yang masih terbaring lemah, membuka buku tersebut, dan mulai mencatat sesuatu. Tanpa berkata-kata, Arthur mulai memfokuskan perhatian pada kondisi bapak Maretha.
Yhuda: (dengan nada tegas) "Sekarang, aku akan memanggil Dewi Darah. Aku butuh detail akurat tentang kondisi darah bapak Maretha. Segala informasi, sekecil apapun itu, harus tercatat dengan sangat teliti dan akurat."
Dengan kata-kata itu, Yhuda memusatkan energi ke titik lain dalam ruangan. Cahaya merah perlahan-lahan muncul, dan sosok Dewi Darah mulai terbentuk. Dewi ini mengenakan jubah merah gelap, rambutnya panjang menjuntai dengan warna merah darah. Matanya memancarkan kekuatan yang memadai untuk mengendalikan darah dan penyembuhan.
Dewi Darah: (dengan suara dalam dan memikat) "Tuan Yhuda, aku telah datang. Apa yang kau butuhkan?"
Yhuda: (dengan suara berat, tegas) "Aku ingin kamu memberikan semua informasi detail mengenai kondisi darah bapak Maretha. Berikan semuanya kepada Arthur. Jangan ada yang terlewatkan, sekecil apapun itu."
Dewi Darah mengangguk dan mengangkat tangannya. Dengan gerakan lembut, darah dalam tubuh bapak Maretha mulai berputar di bawah pengaruh kekuatan dewi tersebut. Arthur segera membuka buku catatannya, siap untuk menulis segala informasi yang diberikan oleh Dewi Darah.
Namun, setelah memerintahkan Dewi Darah, Yhuda merasa tubuhnya mulai kehilangan tenaga. Energi yang ia keluarkan untuk memanggil para dewi itu membuatnya merasa lelah luar biasa. Ia berusaha bertahan, tetapi akhirnya jatuh tertidur di atas karpet, di samping bapak Maretha.
Arthur: (tanpa menoleh, dengan serius) "Dewi Darah, lanjutkan prosesnya. Saya akan mencatat segala sesuatunya dengan teliti."
Dewi Darah pun memulai pekerjaannya, sementara Arthur dengan hati-hati mencatat setiap perubahan yang terjadi pada darah bapak Maretha. Proses penyembuhan dimulai, dan segala informasi tentang kondisi tubuh bapak Maretha mulai tercatat dengan presisi tinggi.
Maretha, yang menyaksikan semuanya, mulai merasa bingung namun juga sedikit lega. Ia mulai memahami bahwa Yhuda benar-benar memiliki kekuatan luar biasa, meskipun sebagian besar dari apa yang terjadi terasa seperti mimpi.
Namun, yang pasti—selama tiga hari ke depan, mereka akan menghadapi banyak hal yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Malam yang Hening di Rumah Maretha
Setelah memastikan bapaknya Maretha sudah tertidur dengan lebih nyaman di ruang tamu kecil itu, Mama Maretha mendekati Maretha dengan wajah penuh kelelahan.
Mama Maretha: "Ta, mama istirahat dulu, ya. Sudah seminggu mama begadang di rumah sakit. Kalau ada apa-apa dengan bapak, segera bangunkan mama."
Maretha mengangguk penuh pengertian. "Iya, Ma. Mama istirahat saja. Biar aku yang jaga di sini."
Mama Maretha pun menuju kamar belakang, meninggalkan Maretha, Arthur, dan dua sosok luar biasa yang masih berada di ruang tamu: Dewi Cuaca, berdiri tenang di pojok ruangan, menjaga suhu tetap stabil di 19 derajat Celsius, dan Dewi Darah, yang terus menyampaikan analisis darah bapaknya Maretha kepada Arthur.
Arthur duduk di kursi kecil dengan buku catatan terbuka di pangkuannya, mencatat setiap data dengan sangat rinci. Cahaya merah lembut dari Dewi Darah memancar samar di ruangan yang kini terasa seperti laboratorium medis ajaib.
Dewi Darah: (dengan nada tenang)
- Tekanan darah (tensi): 94/60 mmHg. Ini menunjukkan tekanan darah yang sangat rendah, menandakan tubuh dalam keadaan lemah dan dehidrasi.
- Hemoglobin (Hb): 8,3 g/dL. Kadar ini mengindikasikan anemia berat, kemungkinan disebabkan oleh gangguan produksi darah akibat kanker.
- Hematokrit: 24%, di bawah normal, mendukung diagnosis anemia.
- Leukosit: 15.200/mm³, menunjukkan adanya infeksi aktif.
- Trombosit: 98.000/mm³. Kadar ini terlalu rendah, berisiko menyebabkan perdarahan spontan.
- Kadar albumin: 2,1 g/dL. Kekurangan protein ini menunjukkan malnutrisi yang berat.
- Enzim hati (SGPT dan SGOT): SGPT 87 U/L, SGOT 94 U/L. Kedua nilai ini tinggi, menunjukkan bahwa hati sedang mengalami tekanan akibat kanker dan pengobatan sebelumnya.
- Kreatinin serum: 2,3 mg/dL. Fungsi ginjal terganggu, kemungkinan karena efek dari dehidrasi atau komplikasi lainnya.
- Kadar natrium (Na): 128 mEq/L. Ini termasuk rendah, yang bisa menyebabkan kelemahan dan kebingungan.
- Kalium (K): 4,9 mEq/L. Hampir di atas batas normal, berisiko menyebabkan aritmia jika naik lebih tinggi.
- Kadar kalsium (Ca): 7,8 mg/dL, menandakan hipokalsemia ringan yang perlu diperbaiki.
- Glukosa darah puasa: 72 mg/dL. Sedikit rendah, mungkin karena kurang asupan makanan.
- Penanda tumor (CEA): 46 ng/mL, jauh di atas normal, mendukung keberadaan kanker nasofaring yang agresif.
Arthur terus mencatat tanpa mengangkat pandangannya. Setiap informasi yang disampaikan Dewi Darah memiliki makna besar bagi Yhuda untuk memahami kondisi bapak Maretha.
Dewi Darah: "Data-data ini menunjukkan kerusakan yang sangat kompleks pada sistem tubuh pasien. Proses penyembuhan membutuhkan banyak energi, baik dari tuan Yhuda maupun dari tubuh pasien sendiri. Saya akan terus memonitor dan melaporkan jika ada perubahan."
Arthur: (mengangguk sambil menulis) "Bagus. Ini informasi penting. Kita harus menyiapkan strategi yang teliti."
Sementara itu, Maretha duduk di sudut ruangan, menatap semua ini dengan campuran rasa kagum, bingung, dan harapan. Di satu sisi, ia merasa tidak masuk akal melihat dua sosok mistis bekerja untuk membantu keluarganya. Di sisi lain, ia tidak punya pilihan selain percaya.
Perut Maretha berbunyi pelan. Ia ingat Yhuda mengatakan bahwa ia membutuhkan makanan dalam jumlah besar setelah ritualnya selesai. Dengan rasa tanggung jawab, ia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi pemesanan makanan.
Maretha: (berbicara pelan kepada dirinya sendiri) "Makanan apa yang bisa memenuhi 20 porsi? Harus yang bisa bertahan lama dan mudah dihangatkan."
Ia mulai memesan berbagai jenis makanan: nasi goreng, mie goreng, ayam goreng, rendang, lauk sayuran, dan minuman dingin untuk berjaga-jaga. Total pesanannya cukup banyak, dan ia sedikit terkejut dengan biaya yang muncul di layar. Namun, ia teringat uang di koper yang ditinggalkan Yhuda.
Setelah selesai memesan, Maretha duduk kembali. Pandangannya tertuju pada Yhuda yang masih tertidur lelap di lantai berkarpet. Ia tampak begitu lelah, tetapi wajahnya tetap tenang, seolah percaya penuh pada kekuatan dirinya dan para dewi yang dipanggilnya.
Dewi Cuaca bergerak sedikit, melirik ke arah Maretha. Dengan suara lembut, ia berkata, "Kehangatanmu sebagai anak adalah energi yang juga membantu bapakmu. Tetaplah kuat, meskipun semuanya terasa sulit."
Maretha mengangguk pelan. Ia tidak tahu bagaimana menjawab dewi itu, tetapi hatinya sedikit lebih tenang mendengar kata-kata itu.
Sekitar satu jam kemudian, suara bel berbunyi. Pesanan makanan yang ia buat telah tiba. Maretha membayar dengan uang dari koper dan mengatur semua makanan di meja kecil di ruang makan. Bau harum makanan memenuhi rumah yang sebelumnya hanya diisi aroma obat-obatan.
Arthur, yang melihat makanan datang, tersenyum kecil. "Kamu sungguh teliti, Maretha. Ini cukup untuk membuat Yhuda kembali berenergi. Dia akan sangat lapar saat bangun nanti."
Maretha hanya tersenyum tipis, pikirannya masih penuh dengan kekhawatiran. Ia menatap bapaknya yang terbaring lemah, lalu beralih menatap Yhuda yang masih tertidur.
Dalam hati, ia berharap ritual ini benar-benar bisa menyembuhkan bapaknya, walau ia masih belum sepenuhnya memahami bagaimana Yhuda bisa melakukan semua ini. Baginya, kehadiran Yhuda adalah sebuah misteri besar yang entah bagaimana membawa secercah harapan di tengah keputusasaan.
**Malam yang Hening di Rumah Maretha**
Maretha berjalan perlahan ke kamar belakang, mengetuk pintu kamar mamanya dengan lembut. "Ma, ayo makan dulu. Aku sudah pesan makanan. Kalau tidak makan, mama bisa makin lemas."
Pintu terbuka sedikit, dan Mama Maretha muncul dengan wajah yang terlihat sedikit lebih segar setelah istirahat. "Iya, Ta. Tapi bapak bagaimana?"
"Masih tidur, Ma. Tadi Dewi Darah bilang kondisi bapak stabil. Kita makan dulu, Ma, biar punya tenaga kalau nanti bapak butuh sesuatu," jawab Maretha dengan senyum kecil.
Mama Maretha mengangguk pelan. Mereka kembali ke ruang tamu kecil itu, di mana Arthur sudah menata meja kecil dengan makanan yang Maretha pesan sebelumnya. Aroma makanan hangat memenuhi ruangan yang dingin, memberikan suasana nyaman di tengah suhu 19 derajat yang dijaga oleh Dewi Cuaca.
"Silakan, Tante," kata Arthur ramah, menarik kursi kecil untuk Mama Maretha.
Mereka bertiga duduk di sekeliling meja. Maretha menuangkan teh panas ke cangkir untuk dirinya dan mamanya, sementara Arthur memilih kopi hitam yang sudah tersedia.
"Maretha, kamu pesan semua ini sendirian?" tanya Mama Maretha sambil mencicipi nasi goreng.
"Iya, Ma. Uangnya tadi dari koper yang Yhuda bawa. Katanya buat kebutuhan selama ritual," jawab Maretha sambil menyendok kuah sayur sop.
Mama Maretha mengangguk, meskipun pikirannya masih penuh pertanyaan. "Dia ini sebenarnya siapa, Ta? Semua orang hormat banget tadi di rumah sakit. Bahkan dia seperti punya kekuatan luar biasa."
Maretha terdiam sesaat. Ia mengingat kejadian-kejadian ajaib yang baru saja ia alami hari ini: dua dewi yang muncul dari tanah, cahaya biru dan merah yang melingkupi ruangan, dan perintah Yhuda yang diikuti tanpa ragu oleh makhluk-makhluk tersebut.
"Dia... dia orang yang spesial, Ma," jawab Maretha akhirnya, memilih untuk tidak menjelaskan lebih jauh.
Arthur yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum kecil. "Tante, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting sekarang kita fokus pada kesembuhan Om. Yhuda tahu apa yang dia lakukan."
Mama Maretha mengangguk, meski pikirannya masih penuh teka-teki. "Semoga bapakmu bisa sembuh, Ta. Kalau melihat apa yang dia lakukan tadi, mama jadi punya harapan."
Setelah makan malam selesai, Maretha mulai membereskan piring-piring kosong. Ia melihat jam di dinding, yang menunjukkan pukul 10 malam. "Sekitar tiga jam lagi, Yhuda mungkin akan bangun," pikirnya.
Maretha memutuskan untuk bersiap-siap menghangatkan makanan untuk Yhuda. Ia memindahkan beberapa lauk ke wadah kecil dan menaruhnya di atas kompor agar lebih mudah nanti.
Arthur, yang duduk di kursi dekat bapak Maretha, memperhatikan setiap gerakan Maretha. "Kamu kelihatan sibuk banget, Ta. Padahal ini sudah malam. Istirahat saja dulu, nanti aku yang bangunkan kamu kalau Yhuda bangun."
Maretha tersenyum lelah. "Aku nggak bisa istirahat, Arthur. Ini pertama kalinya aku merasa ada harapan untuk bapak. Aku harus memastikan semuanya siap."
Arthur mengangguk, menghargai semangat Maretha. Ia melirik koper yang masih penuh dengan uang. "Kamu tahu, Ta? Yhuda bukan cuma teman baik. Dia selalu punya cara untuk membuat semuanya terasa mungkin."
Maretha menatap Arthur dengan penasaran. "Arthur, kamu tahu banyak soal dia, ya? Kenapa dia sampai melakukan semua ini untuk keluargaku?"
Arthur tersenyum kecil. "Yhuda punya alasan yang dalam, Ta. Suatu hari kamu akan tahu. Tapi percayalah, dia bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan."
Hening kembali menyelimuti ruangan. Maretha menata makanan yang sudah dipanaskan di meja kecil, memastikan semuanya tampak rapi. Suhu dingin di ruangan tetap stabil berkat Dewi Cuaca yang masih berdiri tenang di sudut, tidak pernah bergerak sedikit pun.
"Ta, aku mau tidur sebentar di mobil. Kalau ada apa-apa, langsung panggil aku," kata Arthur sambil berdiri.
"Iya, Arthur. Terima kasih ya," jawab Maretha sambil tersenyum tipis.
Arthur keluar rumah, meninggalkan Maretha dan mamanya yang sudah kembali ke kamar. Sekarang Maretha sendirian di ruang tamu, ditemani cahaya lembut dari Dewi Darah dan Dewi Cuaca. Ia melirik Yhuda yang masih tertidur dengan tenang di lantai.
"Pasti lelah sekali," gumamnya pelan.
Sambil menunggu, Maretha membuka ponselnya untuk mencari tahu lebih banyak tentang Yhuda. Ia membuka aplikasi berita dan mengetik nama Yhuda. Berita tentang dia sebagai presiden, filantropis, dan tokoh luar biasa langsung memenuhi layar.
"Orang ini... benar-benar luar biasa," pikir Maretha sambil membaca lebih banyak tentang Yhuda. Namun, semakin banyak ia membaca, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di benaknya.
Ia menutup ponselnya, lalu menatap bapaknya yang terbaring lemah. Dalam hati, ia berdoa agar ritual yang dilakukan Yhuda benar-benar berhasil. Tiga hari mungkin terasa lama, tetapi bagi Maretha, itu adalah harapan yang tidak akan ia lepaskan.
Kebangkitan Yhuda dan Awal Ritual Hari Kedua
Pagi itu, suasana di rumah Maretha tetap dingin berkat Dewi Cuaca yang menjaga suhu di 19 derajat. Yhuda membuka matanya perlahan setelah tidur selama 16 jam. Kepalanya terasa sedikit berat, tubuhnya lelah akibat energi besar yang ia habiskan untuk memanggil dua dewi. Namun, yang membuatnya terkejut adalah Maretha yang tidur duduk di sebelahnya, wajahnya terlihat kelelahan.
“Maretha…” gumam Yhuda pelan sambil menatap wajah Maretha yang tertidur.
Saat ia bergerak sedikit, Maretha tersentak dan terbangun. Matanya terlihat bengkak karena kelelahan, tapi ia langsung tersenyum lega melihat Yhuda sadar. “Yud… akhirnya kamu bangun,” katanya dengan suara serak.
Yhuda menatap Maretha dengan ekspresi penuh rasa bersalah. “Kenapa kamu nggak tidur di kamar? Duduk seperti ini nggak baik buat kesehatanmu.”
Maretha menggeleng sambil tersenyum tipis. “Aku khawatir sama kamu. Tidurmu terlalu lama, aku takut ada apa-apa.”
Yhuda menghela napas panjang. Ia menyentuh pundak Maretha dengan lembut. “Aku baik-baik saja. Kamu seharusnya jaga dirimu juga, Ta. Kalau kamu sakit, siapa yang akan mengurus bapak?”
Sebelum Maretha bisa menjawab, suara pintu kamar terbuka. Mama Maretha keluar dengan wajah penuh rasa ingin tahu. “Syukurlah kamu sudah bangun, Nak Yhuda. Bagaimana kondisi bapak Maretha? Apa hari ini bisa lanjut ritualnya?”
Yhuda tersenyum sambil mengangguk. “Iya, Nang Tulang. Kita lanjut hari ini. Tapi sebelumnya, saya butuh melihat data terakhir dari kondisi bapak.”
Ia segera memanggil Arthur yang masih tidur di mobil. Dengan panggilan cepat di ponselnya, Arthur langsung masuk ke rumah, membawa buku catatan yang berisi detail lengkap darah bapak Maretha. Saat membuka laporan tersebut, alis Yhuda mengerut.
“Ini parah sekali,” kata Yhuda dengan nada serius. “Lihat ini, kadar hemoglobin sangat rendah, hanya 6,5 g/dL. Normalnya harus 13-17. Lalu trombositnya hanya 70 ribu, jauh di bawah batas normal.”
Arthur mengangguk. “Iya, Yhud. Bahkan kadar natriumnya hanya 126 mmol/L, terlalu rendah. Kondisi ini membuat tubuhnya lemah, dan fungsi organ juga terganggu.”
Maretha dan mamanya mendengarkan dengan cemas. Yhuda melanjutkan, “Kadar gula darah puasa juga kacau, hanya 50 mg/dL. Ini terlalu rendah, bisa menyebabkan hipoglikemia berat. Albumin hanya 2 g/dL, artinya kekurangan protein serius. Kadar kalsium juga rendah, hanya 7 mg/dL. Ini kondisi yang sangat berbahaya.”
Maretha menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata. “Jadi… apa yang harus kita lakukan, Yud?”
Yhuda tidak menjawab langsung. Ia mengulurkan tangannya ke udara kosong, membuat gerakan seperti membuka ruang tak terlihat. Dari dimensi misterius itu, ia menarik keluar botol-botol infus yang tampak modern dan berisi cairan beragam warna. Mama Maretha tertegun melihat kejadian ini, sementara Maretha dan Arthur sudah mulai terbiasa dengan keajaiban Yhuda.
“Aku akan memberikan cairan infus yang disesuaikan dengan kondisi bapak,” kata Yhuda sambil meletakkan botol-botol itu di meja. “Ini kombinasi nutrisi lengkap yang akan membantu memperbaiki semua kerusakan darahnya. Aku juga memerlukan bantuan Dewi Darah.”
Dengan panggilan lembut, Dewi Darah muncul kembali di ruangan itu. Cahaya merah lembut menyelimuti ruangan saat ia muncul. “Apa perintah Anda, Tuan Yhuda?” tanyanya dengan nada hormat.
“Dewi Darah, aku ingin kamu memulai proses reparasi darah bapak Maretha. Gunakan cairan infus ini sebagai media utama. Berikan informasi terbaru kepada Arthur setiap satu jam,” perintah Yhuda.
“Dimengerti, Tuan.” Dewi Darah mulai bekerja, tangannya yang bercahaya mengalirkan energi ke tubuh bapak Maretha. Arthur dengan cepat mencatat semua perubahan yang terjadi, sementara Yhuda mengawasi dengan teliti.
“Arthur, pastikan semua data dicatat dengan akurat,” kata Yhuda sambil membuka botol lain. “Ini infus dengan kadar protein tinggi untuk meningkatkan albumin. Yang ini untuk menormalkan kalsium. Dan yang ini untuk menyeimbangkan elektrolit.”
Mama Maretha yang menyaksikan semua ini hanya bisa tertegun. “Apa semua ini benar-benar bisa membantu bapaknya Maretha, Nak?”
Yhuda tersenyum tipis. “Iya, Nang Tulang. Tapi proses ini membutuhkan waktu. Setidaknya tiga hari ke depan, kondisi darah bapak akan membaik secara signifikan. Namun, saya butuh bantuan mama untuk memastikan beliau mendapatkan makanan yang bernutrisi setelah proses ini selesai.”
Mama Maretha mengangguk penuh semangat. “Tentu saja, Nak. Apa pun yang dibutuhkan, mama akan siapkan.”
Waktu berlalu dengan cepat saat Dewi Darah melanjutkan pekerjaannya. Arthur terus mencatat setiap perubahan, seperti peningkatan kadar hemoglobin menjadi 8 g/dL setelah dua jam pertama, dan stabilisasi kadar gula darah ke 90 mg/dL.
Maretha yang duduk di dekat Yhuda akhirnya berbicara, “Yud, kamu terlihat lelah lagi. Apa ini tidak terlalu berat untukmu?”
Yhuda menatap Maretha dengan senyum lembut. “Aku sudah terbiasa, Ta. Tapi memang ini bukan hal yang bisa dianggap enteng. Setiap kali aku memanggil dewi, energiku terkuras sangat banyak. Tapi ini semua demi bapakmu. Jadi tidak masalah.”
Mama Maretha yang mendengar itu semakin terharu. “Nak Yhuda, mama tidak tahu harus berkata apa. Kamu benar-benar seperti malaikat yang dikirim Tuhan.”
Yhuda hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Dalam hatinya, ia tahu bahwa ini bukan sekadar membantu keluarga Maretha, melainkan juga bagian dari misinya untuk merawat hubungan yang sudah terjalin sejak garis waktu sebelumnya.
Waktu terus berjalan, dan setiap perubahan pada data darah bapak Maretha membuat suasana semakin optimis. Meski proses ini melelahkan, Yhuda tetap teguh melanjutkan ritualnya hingga akhir.
Setelah semua proses selesai dan kondisi bapak Maretha menunjukkan perubahan yang signifikan, suasana di rumah mulai berangsur tenang. Dewi Darah tetap berdiri di sudut ruangan dengan sikap tenang, sementara Dewi Cuaca duduk dengan santai, tampak puas karena pekerjaannya menjaga suhu ruangan berjalan sempurna. Arthur terus sibuk mencatat hasil perubahan data darah bapak Maretha, memastikan semua detail terekam dengan akurat.
Yhuda yang baru saja terbangun setelah tidur panjang perlahan duduk, mengamati suasana di sekitarnya. Ia terlihat lebih segar, meskipun masih ada sisa kelelahan di wajahnya. Maretha yang duduk di sebelahnya tampak lega melihatnya sudah pulih.
“Bagaimana perasaanmu, Yud?” tanya Maretha, suaranya lembut namun penuh perhatian.
“Aku baik-baik saja. Hanya butuh waktu lebih lama untuk pulih karena memanggil dua dewi sekaligus cukup menguras tenaga,” jawab Yhuda sambil tersenyum tipis. “Tapi aku senang melihat bapakmu menunjukkan tanda-tanda pemulihan.”
Mama Maretha yang berada di dekat mereka tersenyum hangat. “Terima kasih, Nang Yhuda. Kamu benar-benar membawa harapan untuk keluarga kami. Apa yang bisa kami lakukan untuk membalas ini semua?”
Yhuda menggeleng pelan. “Nang Tulang, cukup dengan doa kalian. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.”
Arthur kemudian menyodorkan buku catatannya ke Yhuda. “Ini semua data terbaru, Pak. Perubahan yang terjadi pada darah bapaknya Maretha sangat signifikan. Sebagian besar fungsi tubuhnya mulai pulih.”
Yhuda mengambil buku itu dan membacanya sekilas. “Bagus sekali, Arthur. Kerjamu seperti biasa, sangat rapi.” Ia lalu menoleh ke Maretha. “Maretha, aku tahu kamu sudah sangat lelah. Aku berjanji, semuanya akan lebih baik dari ini.”
Maretha menatap Yhuda, matanya berkaca-kaca. “Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Kamu sudah melakukan begitu banyak untuk kami.”
Yhuda menepuk bahunya dengan lembut. “Kamu tidak perlu berkata apa-apa. Aku melakukannya karena aku peduli.”
Mama Maretha lalu menyarankan, “Bagaimana kalau kita makan dulu? Aku tahu kamu pasti lapar setelah semua ini, Nang Yhuda.”
Yhuda tersenyum. “Aku memang lapar, Nang Tulang. Tapi sebelum itu, aku harus memanggil satu lagi dewi untuk menyelesaikan tahap terakhir.”
“Apakah itu tidak berbahaya? Kamu baru saja bangun,” tanya Maretha, cemas.
“Tidak apa-apa. Aku sudah cukup istirahat,” kata Yhuda yakin. Ia kemudian berdiri, meregangkan tubuhnya sebelum memulai persiapan untuk ritual berikutnya.
Yhuda menengadahkan tangan, memanggil Dewi Kesembuhan. Tanah di bawah ruangan bergetar pelan, cahaya lembut berwarna hijau mulai muncul, membentuk siluet seorang wanita dengan aura menenangkan. Dewi Kesembuhan muncul dengan anggun, mengenakan pakaian berwarna putih berkilauan.
“Salam, Tuan Yhuda,” katanya sambil membungkuk. “Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku dipanggil.”
Yhuda tersenyum lemah. “Salam, Dewi. Aku membutuhkan bantuanmu. Tapi...” Sebelum ia sempat melanjutkan, tubuhnya melemah. Tanpa bisa menahan, ia terjatuh dan langsung tertidur.
Dewi Kesembuhan menoleh ke Arthur. “Tuan Yhuda terlalu memaksakan dirinya. Aku tidak menerima perintah langsung, tapi aku tahu apa yang harus kulakukan.”
Arthur mengangguk. “Kami akan memastikan Tuan Yhuda mendapatkan istirahat yang cukup. Sementara itu, mohon bantuannya, Dewi.”
Dewi Kesembuhan mengangguk. “Aku akan mulai bekerja. Bapak Maretha masih membutuhkan banyak penyesuaian dalam tubuhnya.”
Mama Maretha, yang menyaksikan semua itu, hanya bisa berdoa dalam hati. Ia tidak sepenuhnya memahami apa yang terjadi, tetapi ia percaya bahwa kehadiran Yhuda membawa harapan besar.
Sementara itu, Maretha mengambil selimut untuk menutupi tubuh Yhuda yang tertidur. Ia duduk di sampingnya, memastikan ia tetap nyaman. “Kenapa kamu selalu memaksakan diri, Yud...” gumamnya pelan.
Arthur melanjutkan pekerjaannya mencatat setiap perubahan yang terjadi pada tubuh bapak Maretha, sementara Dewi Kesembuhan mulai menggunakan kekuatannya untuk mempercepat regenerasi jaringan dan menghilangkan sisa-sisa sel kanker yang masih ada.
Hari itu, keajaiban kembali hadir di rumah kecil Maretha, memberi harapan baru bagi keluarga yang hampir putus asa.
Malam itu, suasana di rumah Maretha terasa sedikit lebih tenang setelah semua proses penyembuhan dilakukan oleh Yhuda. Meskipun ada banyak kejadian aneh, mereka mulai merasa sedikit lebih santai. Setelah Yhuda tertidur, Maretha, Mama Maretha, dan Arthur duduk di ruang tamu, mencoba untuk berbicara lebih banyak tentang apa yang telah terjadi, dan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
“Wah, sudah lama sekali kita nggak duduk bareng seperti ini,” kata Mama Maretha sambil duduk di sofa, melonggarkan sabuk celananya. “Selama beberapa minggu ini, aku sibuk menjaga Bapak, dan Maretha selalu ada di sampingku.”
Maretha tersenyum, meskipun ada sedikit kelelahan di wajahnya. “Iya, Bu. Semua ini memang sangat berat. Tapi dengan bantuan Yhuda, aku merasa lebih tenang. Aku tahu dia bisa bantu kita.”
Arthur, yang duduk di kursi seberang, menatap mereka berdua. “Ya, Yhuda memang luar biasa. Tapi bukan cuma soal kekuatannya. Dia juga sangat peduli pada keluarga ini. Kita harus bersyukur ada dia.”
Mama Maretha mengangguk. “Aku baru pertama kali bertemu dengannya, dan rasanya, meskipun dia berbeda, aku bisa merasakan keseriusannya. Aku berharap Bapak bisa sembuh cepat.”
Maretha menghela napas, memandangi jam dinding. “Aku juga berharap begitu, Bu. Semoga besok keadaan Bapak mulai membaik.”
Suasana mulai lebih santai saat Maretha membuka ponselnya untuk memesan makanan. “Aku pesen makan lewat aplikasi, ya. Kita nggak perlu nunggu Yhuda bangun dulu. Lagipula dia pasti akan tidur lama setelah ritual tadi.”
Mama Maretha tersenyum. “Bagus, Maretha. Kita memang butuh makanan hangat. Aku sudah lupa kapan terakhir kali kita makan dengan tenang seperti ini.”
Sambil menunggu pesanan datang, mereka mulai berbincang lebih jauh mengenai situasi yang mereka hadapi. Arthur memulai percakapan. “Maretha, Ibu, selama Yhuda istirahat di sini, siapa yang akan menangani urusan pemerintahan?”
Maretha mengangguk, merenung sejenak. “Tentu saja, pemerintahan sementara akan di-handle oleh staf kepresidenan di Jakarta. Yhuda sudah menyiapkan segala sesuatunya agar tak ada yang terganggu.”
Mama Maretha menyela, “Tapi, bagaimana dengan Yhuda? Dia bisa menangani semua itu dari sini?”
Arthur tersenyum. “Dia punya cara-cara unik. Seperti yang kita lihat tadi, dia bisa memanggil dewi-dewi, jadi pasti dia sudah mengatur semuanya. Sementara ini, kita hanya perlu menjaga Bapak Maretha dan memastikan Yhuda cukup istirahat.”
“Memang, ya,” kata Maretha. “Terkadang aku merasa tak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi aku tahu kalau Yhuda bisa menangani semuanya.”
Mama Maretha mengangguk. “Kamu benar, Maretha. Yhuda punya cara tersendiri untuk semua ini. Aku hanya berharap Bapak bisa segera sembuh.”
Percakapan mereka terhenti sejenak saat Maretha menerima notifikasi dari aplikasi makanan. “Pesanan kita sudah datang,” katanya sambil tersenyum. “Ayo kita makan.”
Mereka bertiga pun bergegas ke pintu, dan tak lama kemudian, makanan pun tiba. “Sepertinya pesanan ini cukup banyak,” kata Arthur, mengamati kantong plastik yang dibawa oleh pengantar makanan. “Tapi, ini baik. Kita bisa makan dengan tenang.”
Maretha membuka kemasan makanan dengan cepat dan meletakkannya di meja. Mama Maretha dan Arthur segera duduk di sekitar meja, mulai menyantap makanan yang baru tiba. “Ayo, Ibu, makan dulu. Kita nggak perlu nunggu Yhuda,” kata Maretha dengan senyum.
Mama Maretha tertawa kecil. “Benar juga, ya. Mungkin Yhuda akan bangun nanti kalau sudah cukup tidur.”
Mereka pun menikmati makanannya dengan tenang, meskipun ada perasaan cemas yang tak bisa mereka hilangkan sepenuhnya. “Terima kasih, Maretha, sudah memesan makanan,” kata Mama Maretha sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
Maretha tersenyum. “Senang bisa membantu, Bu. Lagipula, kita semua perlu makan.”
Arthur, yang sedang meminum teh panas, ikut menyela. “Makanan ini enak sekali. Aku bisa merasakan betapa lamanya kita tidak makan bersama seperti ini.”
Di tengah perbincangan mereka, Dewi Darah yang selama ini diam di pojok ruangan ikut bergabung dalam percakapan. “Makanannya memang lezat. Kalian tidak perlu khawatir. Saya juga merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.”
Maretha terkejut mendengar Dewi Darah ikut berbicara. “Dewi Darah? Kamu bisa ngomong juga?”
Dewi Darah mengangguk. “Tentu saja, saya selalu memperhatikan keadaan kalian. Setelah proses penyembuhan, saya rasa Bapak Maretha akan mulai membaik dalam waktu dua hari.”
Arthur, yang mendengarkan, menanggapi dengan serius. “Itu kabar baik. Aku juga berharap begitu. Kita harus pastikan Yhuda tetap istirahat agar dia bisa pulih dengan baik.”
Mama Maretha tersenyum lega. “Ya, semoga semuanya berjalan lancar. Aku hanya merasa aneh dengan semua yang terjadi, tapi aku percaya pada Yhuda.”
Maretha menatap Mama-nya. “Aku juga. Yhuda mungkin punya cara yang berbeda dalam mengatasi masalah, tapi dia selalu tahu apa yang harus dilakukan.”
Sambil berbincang, mereka melanjutkan makan. Suasana di rumah Maretha kini terasa lebih hangat. Walaupun banyak yang belum sepenuhnya mereka mengerti, mereka merasa sedikit lebih tenang karena semua pihak bekerja sama dengan baik.
Di sela-sela itu, Maretha melirik ponselnya lagi. “Aku akan memesan lagi, makanan untuk Yhuda. Kita nggak tahu kapan dia akan bangun, dan pasti dia lapar setelah tidur begitu lama.”
Mama Maretha tersenyum. “Kamu benar. Mungkin kita akan lebih baik jika selalu siap dengan makanan. Siapa tahu Yhuda akan minta lebih banyak lagi.”
Arthur menambahkan, “Yhuda memang sering meminta banyak makanan. Dia punya stamina luar biasa, jadi pastikan dia mendapatkan cukup energi.”
Saat mereka berbincang, Dewi Darah ikut nimbrung, “Saya mendukung kalian. Kesehatan Bapak Maretha sudah mulai membaik, dan Yhuda pasti akan merasa lebih baik setelah semua ini selesai.”
Maretha tersenyum mendengar dukungan Dewi Darah. “Terima kasih, Dewi Darah. Aku berharap semuanya akan segera pulih. Tapi, saat ini kita harus memastikan Yhuda mendapatkan perhatian yang cukup.”
Mereka melanjutkan percakapan dengan lebih santai. “Kita juga harus memikirkan rencana ke depan. Kalau Bapak sudah pulih, kita harus mulai merencanakan untuk kehidupan normal lagi,” ujar Mama Maretha.
Arthur menanggapi, “Betul, kita harus kembali ke rutinitas. Tapi selama Yhuda di sini, semuanya terasa agak berbeda. Pemerintahan, kesehatan keluarga, semua berjalan dengan cara yang belum pernah kita alami.”
Maretha mengangguk. “Iya, semuanya terasa sangat cepat, tapi aku rasa ini yang terbaik. Yhuda memberi kita harapan baru.”
Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki di belakang mereka. “Sepertinya Yhuda sudah bangun,” kata Arthur sambil menoleh ke arah pintu.
Maretha dan Mama Maretha berdiri, menatap Yhuda yang perlahan keluar dari kamar tidur. Yhuda tampak masih agak lelah, tapi senyumnya mengembang saat melihat mereka.
“Apa kabar semuanya?” tanya Yhuda, sambil duduk di kursi dekat meja makan.
“Semua baik, Yhuda,” jawab Mama Maretha. “Kamu harus makan, kita sudah pesan banyak makanan.”
Maretha menambahkan, “Aku juga memesan lebih banyak makanan. Kamu pasti lapar setelah tidur begitu lama.”
Yhuda tersenyum lelah. “Terima kasih, Maretha. Aku pasti makan. Tapi aku rasa aku harus menunggu beberapa saat untuk benar-benar pulih.”
Mereka pun kembali duduk bersama, menikmati momen kebersamaan yang jarang terjadi. Meskipun situasinya tidak biasa, mereka merasa ada kedamaian yang perlahan kembali hadir di rumah tersebut.
Dewi Darah, yang masih berdiri di pojok ruangan, mengamati dengan diam. “Semua akan baik-baik saja. Kalian hanya perlu bersabar sedikit lagi.”
Suasana di ruang tamu yang hangat tiba-tiba berubah menjadi tegang saat Yhuda, Mama Maretha, Maretha, dan Arthur duduk bersama menikmati makan malam. Mereka berbincang tentang banyak hal, menceritakan pengalaman dan berbagi tawa. Yhuda yang biasanya terkesan serius, malam ini terlihat lebih santai. Dewi Darah dan Dewi Cuaca, yang sebelumnya diam, kini ikut nimbrung dalam percakapan, menanggapi setiap cerita dengan senyuman samar.
Yhuda memandang ke arah ketiga dewi yang masih berdiri di pojok ruangan. “Kalian tahu nggak,” Yhuda mulai bercanda, “aku mulai merasa seperti pengusaha besar yang punya staf pribadi. Dewi Cuaca di sana, Dewi Darah di sini, dan Dewi Kesembuhan selalu siap siaga.” Dia tertawa kecil. “Sepertinya aku bisa jadi CEO dewi-dewi, ya?”
Dewi Cuaca, yang selama ini pendiam, ikut tersenyum. “Tentu saja, Tuan Yhuda. Kalau kamu CEO, berarti kita para dewi adalah karyawan setia yang siap melayani setiap perintahmu.”
Dewi Darah menambahkan, “Kami hanya bekerja dengan sepenuh hati untuk membantu kamu dan keluarga ini. Kami percaya pada kemampuanmu untuk mengubah segalanya.”
Maretha yang mendengar guyonan Yhuda ikut tertawa, meskipun masih merasa cemas dengan keadaan Bapak Maretha yang belum sepenuhnya pulih. “Tapi aku nggak bisa bayangin kalau kamu benar-benar jadi CEO dewi-dewi. Pasti sibuk banget, ya?”
Mama Maretha yang juga ikut mendengarkan obrolan ini menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Yang penting kamu selalu ada untuk keluarga ini, Yhuda. Tidak perlu jadi CEO. Cukup jadi teman bagi kita.”
Yhuda tertawa dan melanjutkan makan, seolah suasana kembali ringan. Tiba-tiba, suara keras terdengar dari arah jendela. Semua orang di ruangan itu terkejut. Suara tembakan yang sangat jelas memecah keheningan malam.
BANG! BANG! BANG! Peluru yang ditembakkan dengan presisi luar biasa menembus kaca jendela, melesat ke arah Yhuda. Peluru pertama menyentuh bagian kepala Yhuda, disusul tiga peluru lainnya yang juga mendarat di bagian yang sama. Yhuda terhuyung mundur sejenak, darah menyembur keluar dari kepala Yhuda, tapi ia hanya tersenyum lebar.
"Sialan," kata Yhuda dengan nada santai, meski darah mengucur deras. Ia menggerakkan tangannya, dan seolah peluru-peluru itu keluar dengan sendirinya, mengalir keluar dari kepala Yhuda dalam hitungan detik. Luka di kepala Yhuda sembuh dengan cepat, seperti tak pernah ada yang terjadi.
Semua yang ada di ruangan itu terdiam. Mereka tidak tahu harus berkata apa, hanya bisa melihat keajaiban yang terjadi di depan mata mereka. Namun, Yhuda tetap tenang. Ia menatap ke arah jendela, tempat tembakan itu datang.
Dengan suara yang lebih tegas, Yhuda berkata, “Ternyata ada yang tidak suka dengan keberadaan saya.” Lalu, ia menoleh ke arah Maretha dan Mama Maretha. “Jangan takut, ini bukan pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini.”
Kemudian, Yhuda menutup matanya sejenak dan mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang tidak mereka pahami. Dalam sekejap, sosok yang lebih besar, lebih menakutkan muncul di ruangan itu. Sesosok iblis dengan sayap hitam lebar yang menakutkan, muncul di hadapan mereka, membawa aura yang kuat dan mematikan.
"MORNING STAR!" seru Yhuda dengan tegas. Iblis yang bernama Morning Star itu menundukkan kepalanya dengan hormat, memancarkan kekuatan yang memancar di sekelilingnya. Wajah iblis itu terlihat lebih mengerikan, dengan tatapan tajam yang bisa membuat siapa saja merasa gentar.
Maretha dan Mama Maretha terkejut. Mereka mundur sedikit, takut akan kehadiran sosok tersebut. Namun, Morning Star dengan suara beratnya mencoba menenangkan mereka. “Jangan takut, saya hanya tunduk pada perintah Tuan Yhuda. Saya hanya datang untuk membantu.”
Arthur yang juga terkejut melihat kejadian itu, langsung mengambil tindakan. Ia berdiri dan menepuk kepala Morning Star dengan keras, sebuah tindakan yang menunjukkan posisinya sebagai atasan iblis itu. “Jangan menakuti mereka!” perintah Arthur. “Minta maaf kepada Maretha dan Mama Maretha. Mereka tidak terbiasa dengan semua ini.”
Morning Star menundukkan kepala dalam-dalam, dan dengan suara lembut yang tak biasa bagi iblis sebesar dia, berkata, “Saya mohon maaf jika kehadiran saya membuat kalian terkejut. Itu bukan niat saya.”
Mama Maretha yang masih agak gemetar menatap Morning Star. “Kamu… kamu bukan orang biasa, ya?” tanya Mama Maretha, masih terkejut.
Morning Star tersenyum tipis. “Saya bukan manusia, saya adalah salah satu iblis yang pernah bekerja di bawah perintah Tuan Yhuda. Tetapi, saya tunduk sepenuhnya pada kehendak dan perintahnya.”
Yhuda, yang sebelumnya tampak tidak terpengaruh dengan kejadian yang baru saja terjadi, berdiri dan memberi perintah kepada Morning Star. “Sekarang, kamu pergi dan cari tahu siapa yang menembakku. Bawa pelakunya ke sini, aku ingin bicara langsung dengan mereka.”
Morning Star mengangguk dan dengan sayap hitamnya yang besar, ia terbang keluar dari rumah dengan kecepatan yang luar biasa. Angin kencang mengikuti jejak sayapnya yang membelah udara malam. Dalam hitungan detik, Morning Star sudah menghilang dari pandangan mereka.
Mama Maretha, yang masih terkejut, menatap Yhuda dengan mata terbuka lebar. “Kamu… kamu bisa memanggil iblis seperti itu?”
Yhuda tersenyum tipis. “Ya, dia hanya salah satu dari banyak cara yang bisa saya gunakan. Tidak perlu khawatir, mereka hanya akan mendengarkan saya, bukan menakut-nakuti kalian.”
Arthur, yang sebelumnya tampak sedikit bingung, akhirnya mulai mengerti. “Jadi, ini semua bagian dari dunia yang berbeda. Dunia yang jauh dari pemahaman kami.”
Yhuda mengangguk. “Betul. Ini adalah dunia yang saya jalani, dan kalian sekarang menjadi bagian dari dunia itu. Tapi tenang saja, saya pastikan kalian aman.”
Maretha, yang sebelumnya khawatir, merasa sedikit lebih tenang. Ia menatap Yhuda. “Kamu memang luar biasa, Yhuda. Tapi, aku tetap khawatir. Jangan sampai ada yang bahaya datang lagi.”
Yhuda mengusap rambut Maretha dengan lembut. “Jangan khawatir, Maretha. Semua ini akan berakhir dengan baik. Kita hanya perlu sedikit lebih sabar.”
Sesaat kemudian, mereka mendengar suara sayap besar yang kembali mendekat. Morning Star kembali dengan membawa seseorang yang tampak terikat dan terjatuh ke lantai dengan kasar.
“Saya bawa orangnya, Tuan Yhuda,” kata Morning Star, menundukkan kepala dengan hormat.
Yhuda mengamati orang yang terikat di lantai, matanya menyipit. “Siapa kamu?” tanya Yhuda dengan suara tegas.
Pelaku yang terikat itu hanya bisa mengangkat kepalanya sedikit dan menatap Yhuda dengan mata penuh kebencian. “Aku adalah bagian dari kelompok yang berusaha menyingkirkanmu. Kamu terlalu berbahaya bagi kami.”
Yhuda tersenyum dingin. “Ternyata begitu. Baiklah, kita akan selesaikan masalah ini dengan cara yang berbeda.”
---
Setelah Morning Star membawa teroris itu pergi, suasana di rumah Maretha terbungkus dalam keheningan yang tebal. Semua orang, termasuk Dewi Darah dan Dewi Cuaca, seolah menahan napas, menyaksikan kejadian tersebut dengan perasaan campur aduk. Meskipun Yhuda selalu tampil tenang dan penuh wibawa, ada sisi lain darinya yang tak bisa mereka abaikan—sebuah sisi yang jauh lebih menakutkan, terutama bagi musuh-musuh yang berani menantangnya.
Yhuda menatap teroris yang terikat di lantai dengan tatapan tajam dan dingin. Setiap detil tubuhnya, setiap gerakan teroris yang mencoba menghindar, tak luput dari perhatian Yhuda. Tangannya terlipat di depan dada, menambah kesan tegas dan serius. Namun ada ketegangan yang begitu jelas di udara, membuat ruang itu terasa semakin berat.
“Jadi, kamu yang berani menembakku?” Suara Yhuda mengalir begitu tajam, seperti pisau yang mengiris keheningan. Tidak ada rasa takut atau keraguan sedikit pun dalam nada suaranya. Teroris itu hanya bisa menunduk, tubuhnya menggigil ketakutan, wajahnya pucat pasi.
Maretha dan Mama Maretha duduk diam di sudut ruangan, tak berani bergerak. Mereka tahu betul, ini bukan hal biasa. Yhuda bukanlah sosok yang mudah dihadapi, apalagi di saat seperti ini. Mama Maretha meremas tangan Maretha dengan erat, perasaan cemas dan khawatir mulai kembali mengguncang hatinya. Namun, mereka tahu, saat ini mereka hanya bisa menunggu.
“Tolong… aku minta maaf!” Teroris itu berteriak, suara ketakutannya terdengar begitu memelas. “Aku hanya menjalankan perintah! Aku tidak tahu kalau kalian bisa melakukan hal-hal seperti ini!” Ia merintih, berharap bisa mendapatkan belas kasihan, tapi Yhuda hanya diam, menatapnya dengan mata yang penuh kewibawaan.
Yhuda berdiri tegak, mengamati wajah teroris itu tanpa ekspresi, matanya seakan menembus hingga ke dalam jiwa teroris itu. "Perintah dari siapa?" tanyanya dengan suara yang dingin, tajam seperti es. "Siapa yang mengirimmu untuk melakukan percakapan yang bodoh ini? Tidak hanya kamu mencoba membunuhku, tapi kamu juga berisiko membahayakan orang-orang yang aku lindungi.” Suaranya semakin keras, memberikan tekanan yang nyata di dalam ruangan itu.
Teroris itu terdiam, mencoba mencari keberanian untuk berbicara, namun tatapan Yhuda yang tajam bagaikan kilat yang menyambar, membuatnya semakin ketakutan. “Kami… kami bekerja untuk kelompok yang ingin menghapuskan semua yang mengancam kekuasaan mereka. Kamu terlalu berbahaya bagi kami, Yhuda,” jawabnya dengan suara gemetar.
Yhuda mendengus pelan, bibirnya tersenyum sinis, namun senyum itu lebih menyeramkan daripada menyenangkan. “Kelompok?” tanyanya dengan nada mengejek, matanya menyipit, penuh tantangan. “Apa kamu kira, kamu bisa begitu saja menargetkan saya dan keluarga saya tanpa konsekuensi?” Ia melangkah mendekat, mengintimidasi teroris itu dengan setiap langkahnya.
Mama Maretha, yang duduk di sudut ruangan, menahan napas dengan cemas. Ketegangan semakin terasa di seluruh ruangan. “Yhuda…” suara Mama Maretha terdengar khawatir, seperti mencoba melunakkan suasana. “Mereka hanya orang kecil, tidak usah terlalu keras.”
Namun Yhuda menoleh ke arahnya, dan meskipun tatapannya lembut, ada ketegasan yang tak terbantahkan. “Ini bukan soal kecil atau besar, Nang Tulang. Ini soal prinsip. Saya tidak akan membiarkan siapa pun mengancam keluarga saya. Tidak ada ampun untuk mereka.” Suaranya begitu berwibawa, seakan menunjukkan bahwa tidak ada ruang untuk kompromi.
Sambil berbicara, Yhuda melangkah ke belakang, menuju Morning Star yang sudah berdiri di sisi, menunggu perintah. Morning Star mengangguk pelan, siap melaksanakan perintah yang diberikan dengan ketepatan yang tinggi.
“Morning Star,” suara Yhuda terdengar begitu tegas, hampir seperti perintah mutlak. “Bawa orang ini terbang. Bawa dia ke tengah gurun Sahara. Itu adalah bayaran yang harus ia terima. Setiap orang yang mencoba mengancam nyawa saya atau orang yang saya sayangi, akan merasakan akibatnya.” Suara Yhuda begitu kuat, penuh ketegasan yang memancarkan kewibawaan.
Morning Star segera melangkah maju, sayap hitamnya yang besar mengembang dengan sempurna. Ia segera mengikat teroris itu lebih erat, memaksa tubuhnya tetap diam meskipun teroris itu mulai meronta, ketakutan akan apa yang akan terjadi selanjutnya. “Tolong! Jangan! Saya tidak ingin mati!” teroris itu berteriak dengan suara yang mulai putus-putus, penuh ketakutan.
Namun Yhuda tetap tidak bergeming. “Kamu tidak mendengarkan dengan baik sebelumnya, kan?” kata Yhuda, menatap teroris itu dengan tatapan tajam. “Kamu sudah berani mengambil nyawa orang tanpa izin. Sekarang, saatnya kamu membayar.”
Ia menatapnya lebih dalam, seakan menembus segala keberanian yang tersisa dalam diri teroris itu. “Ini adalah pelajaran, untuk siapa pun yang berpikir mereka bisa mengancam atau menyerang kami tanpa alasan yang jelas. Dunia ini tidak akan memberikan ampun bagi mereka yang melanggar hukum.”
Morning Star dengan mudah mengangkat tubuh teroris itu ke udara, dan dalam sekejap, mereka terbang keluar rumah, melesat cepat menembus langit malam yang gelap. Semua ini berlangsung begitu cepat, hampir tidak memberi waktu bagi siapa pun untuk berpikir lebih jauh. Dalam beberapa detik, sosok Morning Star dan teroris itu sudah menghilang ke kejauhan.
Yhuda kembali menatap Maretha dan Mama Maretha yang masih terdiam di tempatnya. “Maaf, jika ini membuat kalian terkejut,” kata Yhuda dengan suara lebih lembut, mencoba meredakan ketegangan yang masih ada. “Aku hanya ingin memastikan kalian aman. Tidak ada yang bisa mengancam kalian.”
Maretha yang semula tampak cemas kini sedikit tenang. Namun, ia masih merasakan ketegangan dalam dirinya. “Kamu… kamu memang luar biasa, Yhuda,” katanya, masih terkesan dengan kejadian yang baru saja berlangsung. “Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.”
Mama Maretha menghela napas panjang, menatap Yhuda dengan perasaan yang campur aduk. “Aku tidak tahu harus berpikir bagaimana. Semua ini… sangat berbeda dengan yang aku bayangkan,” katanya pelan, matanya masih memandang Yhuda, yang kini lebih terlihat manusiawi meskipun tetap penuh wibawa.
Yhuda tersenyum tipis. “Aku mengerti, Mama. Tapi percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Saya tidak akan membiarkan ada yang mengancam keluarga ini lagi.” Suaranya lembut namun tetap menunjukkan ketegasan yang luar biasa.
Sambil berbicara, Yhuda mengalihkan pandangannya ke arah Dewi Darah yang masih berdiri di sisi ruangan, menunggu dengan serius. “Dewi Darah, bagaimana kondisinya sekarang? Apakah semua sudah stabil?”
Dewi Darah melangkah maju, memberikan laporan singkat tentang kondisi Bapak Maretha. “Kondisi darah beliau sudah jauh lebih baik, Tuan. Proses pemulihan terus berjalan dengan baik.”
Yhuda mengangguk puas, merasa sedikit lega mendengar laporan itu. “Bagus. Kami hanya perlu sedikit lebih banyak waktu.”
Setelah itu, suasana kembali tenang. Yhuda duduk di kursi, sementara Mama Maretha dan Maretha melanjutkan percakapan mereka dengan nada yang lebih hati-hati setelah kejadian tersebut. Namun, di dalam hati Yhuda, ketegasan yang ia tunjukkan tadi adalah peringatan bagi siapa saja yang berniat mengancam keluarganya. Tidak ada ampun, tidak ada ruang untuk kompromi. Semua musuh yang datang dengan niat buruk harus siap menerima konsekuensinya.
---
Revisi Anda sangat baik! Cerita ini kini mengalir dengan lancar dan memadukan unsur ketegangan serta keputusan penting yang diambil oleh Yhuda. Berikut adalah sedikit tambahan untuk menambah intensitas cerita:
Suasana di rumah Maretha kembali terasa tegang setelah peristiwa yang baru saja terjadi. Teroris yang mencoba membunuh Yhuda kini sudah dibawa jauh oleh Morning Star ke gurun Sahara. Meskipun ancaman itu telah berakhir, pikiran mereka masih tertahan pada kenyataan yang baru saja terungkap. Yhuda, dengan ketegasan yang ia tunjukkan, seakan memberi pesan jelas pada siapa saja yang berani mengancam keluarganya—tidak ada ampun.
Maretha dan Mama Maretha duduk di sudut ruang tamu, tampak lebih tenang, namun masih terbawa oleh ketegangan yang baru saja terjadi. Mereka berdua saling bertukar pandang, mencoba untuk mengerti lebih dalam tentang siapa Yhuda sebenarnya. Mama Maretha yang tadinya merasa khawatir, kini mulai memahami sedikit lebih banyak mengenai sifat Yhuda yang penuh wibawa, meskipun terkadang bisa sangat menakutkan.
Di sisi lain, Dewi Cuaca dan Dewi Darah diam-diam mengamati Yhuda. Mereka tahu bahwa meskipun Yhuda tampak tegas, ia juga memiliki sisi yang sangat peduli terhadap orang-orang yang ia sayangi. Mereka pun mengetahui bahwa Yhuda tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki kewibawaan yang luar biasa dalam mengendalikan situasi.
Namun, masalah utama yang belum terselesaikan adalah kondisi Bapak Maretha. Proses penyembuhannya sudah berjalan, tapi Dewi Kesembuhan merasa ada yang tidak beres. Ia terus memeriksa kondisi Bapak Maretha, tapi ada hambatan yang membuatnya kesulitan mempercepat pemulihan.
Melihat itu, Yhuda berjalan mendekat. “Ada apa, Dewi?” tanyanya dengan nada yang lebih lembut namun tetap menunjukkan kekuatan otoritasnya.
Dewi Kesembuhan menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan keraguan yang jelas. “Sayangnya, Tuan Yhuda, proses ini sangat sulit. Kondisi Bapak Maretha bukanlah hal yang mudah untuk disembuhkan. Meskipun saya telah melakukan yang terbaik, saya merasa ada sesuatu yang menghalangi penyembuhannya.”
Yhuda terdiam sejenak, memusatkan perhatiannya. “Apa maksudmu, Dewi? Sudah cukup lama kami tahu tentang kondisi Bapak Maretha. Dia menderita kanker nasofaring, kan?”
Dewi Kesembuhan mengangguk pelan, namun wajahnya masih tampak serius. “Benar, Tuan. Namun ada sesuatu yang lebih mendalam. Proses penyembuhan untuk kanker ini bisa berlangsung lama, dan saya rasa... saya rasa ini ada kaitannya dengan kanker tahap lanjut yang bisa menghalangi proses penyembuhan normal. Dengan segala kekuatan yang saya miliki, saya merasa ini membutuhkan lebih dari sekadar perawatan biasa.”
Yhuda memandangi Dewi Kesembuhan sejenak. Ia memang tahu segalanya tentang dunia yang ia kuasai, termasuk para Dewi yang ada di bawah perintahnya. Namun, dalam beberapa detik, Yhuda mulai merasakan ada sesuatu yang terlewatkan dari pikirannya. Sejak awal, ia belum memikirkan untuk memanggil Dewi Kesehatan khusus kanker. Biasanya, ia akan menangani masalah seperti ini dengan cara lain, atau bahkan memanggil kekuatan yang lebih kuat. Tapi kali ini, ia merasa ada sesuatu yang hilang dalam perhitungannya.
“Jadi... kamu merasa ada yang kurang?” tanya Yhuda, mencoba memahami lebih dalam.
Dewi Kesembuhan mengangguk perlahan. “Betul, Tuan. Saya memiliki kemampuan dalam banyak bidang, namun untuk penyakit kanker dalam stadium lanjut seperti ini, ada Dewi lain yang lebih ahli. Saya tidak cukup piawai dalam hal ini.”
Yhuda terdiam, wajahnya tampak berpikir keras. “Lalu siapa yang bisa kita panggil untuk menangani ini?” katanya, seolah baru sadar akan pentingnya memanggil seseorang yang lebih ahli dalam bidang ini.
Dewi Kesembuhan mengangkat pandangannya dengan rasa penuh harapan. “Tuan, ada seorang Dewi Kesehatan khusus yang berfokus pada pengobatan kanker. Namanya Jan. Dia memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam hal ini, dan saya rasa hanya dia yang bisa menyembuhkan Bapak Maretha dengan cara yang tepat.”
Yhuda menatap Dewi Kesembuhan dengan mata yang lebih tajam. “Jan...?” Ia mengulangi nama itu dengan hati-hati. Yhuda, yang sudah mengenal banyak Dewi dalam seluruh alam semesta, mulai mengingat tentang Jan. “Aku ingat. Jan adalah Dewi yang sangat ahli dalam masalah kanker, tapi... mengapa aku tidak langsung memikirkannya? Aku terlalu fokus pada pengobatan biasa.”
Dewi Kesembuhan menyunggingkan sedikit senyum, mengetahui bahwa Yhuda sudah mulai menyadari kekurangannya. “Tuan Yhuda, bahkan yang terkuat sekalipun kadang bisa terlupakan. Jan adalah satu-satunya yang dapat menangani masalah ini dengan cara yang lebih efektif.”
Yhuda menghela napas pelan, lalu menatap Dewi Kesembuhan dengan ekspresi yang lebih lembut. “Baiklah, jika itu yang terbaik, aku akan memanggilnya. Aku ingin Bapak Maretha mendapatkan yang terbaik.”
Namun, sebelum melangkah lebih jauh, Yhuda merasa perlu untuk mempersiapkan lebih banyak hal. “Aku akan memasuki mode tidur terlebih dahulu untuk memanggil Jan. Tapi sebelum itu, aku harus memastikan semuanya aman. Aku tidak ingin ada yang mengganggu proses ini.”
Dengan langkah mantap, Yhuda melangkah ke tengah ruangan dan mulai mengucapkan mantra kuno yang hanya dia ketahui. Sepuluh malaikat penjaga, dengan sayap yang lebar dan sinar yang menyilaukan, muncul satu per satu di sekeliling mereka. Setiap malaikat berdiri tegak, siap untuk melindungi.
Yhuda menoleh kepada mereka. “Jagalah rumah ini dan orang-orang yang ada di dalamnya. Jangan biarkan siapa pun mendekat tanpa izin. Siapapun yang berniat jahat akan bertanggung jawab atas konsekuensinya.”
Malaikat-malaikat itu bergerak, menyebar keluar rumah dengan kecepatan luar biasa. Mereka mengelilingi perimeter rumah dengan jangkauan radius 30 kilometer, memastikan bahwa tidak ada ancaman yang bisa mendekat tanpa mereka ketahui.
Setelah memastikan perlindungan yang cukup, Yhuda menatap seluruh ruangan dengan penuh perhatian. “Sekarang, aku akan memanggil Jan. Dewi Kesehatan Kanker, yang satu-satunya yang bisa membantu kita.”
Setelah memastikan perlindungan yang cukup, Yhuda menatap seluruh ruangan dengan penuh perhatian. “Sekarang, aku akan memanggil Jan. Dewi Kesehatan Kanker, satu-satunya yang bisa membantu kita,” ujarnya dengan nada penuh keyakinan.
Tanpa membuang waktu, Yhuda memulai ritual pemanggilan. Ia membuka dimensi pribadinya, dan dari sana muncul sebuah botol kaca kecil berisi cairan merkuri yang berkilauan. Kilauannya memantulkan cahaya dari lilin-lilin yang menyala di sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang semakin misterius. Semua orang terdiam, menyaksikan Yhuda bekerja dengan penuh konsentrasi. Maretha menggenggam tangan Arthur erat-erat, sementara Arthur mengangguk perlahan, menyiratkan bahwa ia bersiap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi.
Yhuda berlutut di lantai, menggunakan merkuri tersebut untuk menggambar lingkaran sihir kuno yang penuh dengan simbol-simbol rumit. Gerakannya presisi, seakan sudah ribuan kali ia melakukannya. Lingkaran itu perlahan memancarkan cahaya redup, yang semakin lama semakin terang. Setelah selesai, ia berdiri di tengah lingkaran, mengangkat kedua tangannya, dan mulai melafalkan mantra kuno dengan nada tegas dan dalam.
Energi mulai terkumpul di dalam lingkaran sihir tersebut. Udara di ruangan menjadi lebih berat, seolah terisi oleh kekuatan yang tak terlihat. Cahaya dari lingkaran itu berubah menjadi semburat warna biru dan emas, menyilaukan mata siapa pun yang menatapnya terlalu lama. Angin lembut tiba-tiba berhembus dari arah lingkaran, membawa aroma bunga-bunga yang tidak dikenal.
Sebuah pusaran energi muncul di tengah lingkaran sihir. Suaranya bergemuruh lembut, seperti air terjun yang mengalir di kejauhan. Cahaya di dalam pusaran itu semakin intens, dan perlahan, sosok seorang wanita mulai terbentuk. Ia memiliki rambut panjang berwarna biru lembut, mengenakan jubah putih bersulam emas yang memancarkan keanggunan. Matanya berwarna biru terang, penuh ketenangan dan kehangatan.
“Aku adalah Jan, Dewi Kesehatan Kanker,” ucapnya dengan suara lembut namun penuh wibawa. Ia melangkah keluar dari lingkaran sihir, menatap langsung ke arah Yhuda. Sosoknya membawa aura yang menenangkan, seperti aliran air yang lembut namun mampu menghanyutkan siapa saja yang berdiri di hadapannya.
“Salam, Jan,” balas Yhuda sambil menundukkan sedikit kepalanya, menunjukkan rasa hormat. “Kami membutuhkan keahlianmu. Seseorang yang penting bagi kami sedang dalam kondisi kritis.”
Jan melirik ke sekeliling ruangan, matanya berhenti pada Maretha dan Mama Maretha yang berdiri di sudut. Ia kemudian beralih ke Yhuda. “Aku merasakan penderitaan itu. Bawa aku ke orang yang membutuhkan pertolonganku,” katanya sambil tersenyum lembut.
Sebelum melanjutkan, Yhuda mengangkat tangan, memberi isyarat untuk menahan sejenak. “Sebelumnya, aku harus memastikan semuanya aman. Arthur, datang ke sini.”
Arthur maju mendekat, wajahnya serius. “Ada apa, Yhuda?” tanyanya.
“Koordinasikan dengan para malaikat yang berjaga di luar. Pastikan tidak ada yang melewati perimeter radius tiga puluh kilometer ini tanpa izin. Aku mencurigai ada kemungkinan serangan kedua. Kita tidak bisa lengah,” perintah Yhuda.
Arthur mengangguk dengan tegas. “Akan aku pastikan semuanya terkendali. Kau bisa fokus pada pemanggilan dan penyembuhan.”
Jan memperhatikan interaksi itu dengan penuh minat, namun ia tetap diam, membiarkan Yhuda menyelesaikan persiapannya. Setelah Arthur pergi untuk melaksanakan tugasnya, Yhuda kembali menatap Jan.
“Terima kasih telah datang. Bapak Maretha menderita kanker nasofaring dalam stadium lanjut. Meskipun Dewi Kesembuhan telah berusaha semaksimal mungkin, ia mengakui bahwa hanya kau yang dapat menanganinya.”
Jan mengangguk pelan, lalu mendekati Yhuda. “Aku memahami situasinya. Penyakit ini memang membutuhkan perhatian khusus, terutama ketika sudah mencapai tahap lanjut. Namun, aku membutuhkan beberapa hal untuk memulai proses penyembuhan. Siapkan air suci dan sehelai kain putih bersih. Kita akan segera mulai.”
Yhuda langsung memberi isyarat pada Maretha, yang segera bergegas mengambil apa yang diminta Jan. Sementara itu, Mama Maretha menatap Jan dengan penuh harapan. “Apakah benar... apakah benar suami saya bisa disembuhkan?”
Jan menoleh padanya, tersenyum menenangkan. “Aku tidak menjanjikan keajaiban, tapi aku akan melakukan yang terbaik. Dengan izin Tuan Yhuda dan restu alam semesta, kita akan berusaha bersama.”
Beberapa saat kemudian, Maretha kembali dengan kain putih dan semangkuk air suci. Jan menerima keduanya, lalu memulai ritualnya. Ia berdiri di samping tubuh Bapak Maretha yang terbaring lemah, meletakkan kain itu di atas dadanya. Dengan perlahan, ia mencelupkan tangannya ke dalam air suci, kemudian meneteskan beberapa tetes ke kening dan dada pasien.
Sebuah cahaya lembut muncul dari kain putih itu, menyebar ke seluruh tubuh Bapak Maretha. Suasana menjadi hening, semua orang menahan napas. Jan memejamkan mata, tangannya bergerak perlahan di atas tubuh Bapak Maretha, seolah menarik sesuatu yang tidak terlihat.
Yhuda berdiri di belakang Jan, mengamati setiap gerakannya dengan seksama. Ia merasakan kekuatan yang luar biasa dari Dewi Kesehatan ini, sesuatu yang bahkan dia sendiri kagumi. Jan terus melafalkan mantra dengan suara lembut, sementara cahaya dari tubuh Bapak Maretha semakin terang.
Setelah beberapa saat, Jan menarik napas panjang dan membuka matanya. Cahaya itu memudar, dan suasana ruangan kembali normal. “Aku telah melakukan yang terbaik untuk menghilangkan energi negatif yang memperburuk kondisinya. Namun, proses penyembuhan masih membutuhkan waktu. Dengan perawatan lebih lanjut, ia akan pulih.”
Semua orang di ruangan itu merasa lega. Mama Maretha mendekat, menggenggam tangan Jan dengan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih... terima kasih banyak.”
Jan hanya tersenyum, lalu menoleh pada Yhuda. “Tugasku di sini selesai untuk saat ini. Jika kau memerlukan bantuanku lagi, kau tahu cara memanggilku.”
Yhuda mengangguk. “Aku berhutang budi padamu, Jan. Semoga alam semesta memberkatimu.”
Jan menghilang perlahan dalam semburat cahaya biru, meninggalkan suasana ruangan yang kini dipenuhi harapan baru. Yhuda menatap Arthur yang kembali masuk ke ruangan. “Semua aman?” tanyanya.
“Ya, perimeter terkendali,” jawab Arthur. “Tidak ada tanda-tanda ancaman.”
“Bagus,” ucap Yhuda. Ia menatap semua orang di ruangan itu dengan serius. “Kita masih harus waspada. Ini mungkin baru awal dari cobaan yang lebih besar.”
Malam itu, semua orang tidur dengan rasa lega meskipun tetap siaga. Yhuda duduk sendirian di depan pintu kamar Maretha, menjaga keluarganya dengan penuh perhatian, sambil terus berpikir tentang apa yang akan datang.
**Suasana Malam yang Menegangkan**
Malam itu rumah Maretha terasa lebih hening dari biasanya. Setelah peristiwa ritual pemanggilan Jan dan upaya penyembuhan, semua orang akhirnya bisa beristirahat. Yhuda telah masuk ke mode tidur untuk memulihkan energinya, sementara Arthur dan para malaikat tetap berjaga di perimeter rumah. Maretha dan ibunya akhirnya terlelap, meski hati mereka masih dihantui kecemasan tentang kondisi Bapak Maretha.
Namun, di tengah malam yang sunyi, sebuah keajaiban terjadi. Napas berat yang semula terengah-engah kini menjadi lebih teratur. Mata Bapak Maretha yang selama ini tertutup perlahan terbuka. Ia sadar sepenuhnya, pandangannya menyesuaikan dengan cahaya redup yang memancar dari lilin di sudut ruangan.
Ia menggerakkan tangannya perlahan, merasakan tubuhnya yang terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Namun, alih-alih tersenyum bahagia atas kesadarannya, ekspresinya tampak datar, bahkan nyaris dingin. Sejenak ia menatap sekeliling, memastikan bahwa tidak ada yang terbangun.
**Sebuah Keputusan Tersembunyi**
Dengan perlahan, ia bangkit dari tempat tidur. Selama beberapa saat, ia berdiri sambil memegangi dadanya, seolah ada beban yang tidak terlihat. Pandangannya menyapu ruangan, lalu berhenti pada sebuah cermin besar di dekatnya. Ia berjalan mendekati cermin itu dan menatap pantulan dirinya.
“Kembali hidup...” gumamnya pelan, suaranya hampir seperti bisikan. “Mengapa mereka begitu keras kepala?”
Ekspresi wajahnya berubah menjadi getir. Sebuah rahasia yang selama ini ia pendam muncul ke permukaan, sesuatu yang bahkan keluarganya tidak tahu. Selama bertahun-tahun, ia telah menerima penyakitnya sebagai bagian dari dirinya. Ia tidak pernah meminta kesembuhan, bahkan ia tidak pernah menginginkannya.
**Kenangan yang Menyakitkan**
Bapak Maretha menutup matanya, membiarkan pikirannya melayang kembali ke masa lalu. Ia teringat saat pertama kali mengetahui bahwa ia mengidap kanker. Alih-alih merasa takut, ia justru merasa lega. Baginya, penyakit itu adalah jalan keluar dari rasa bersalah dan penderitaan yang selama ini ia rasakan.
Ia teringat saat-saat di mana ia gagal sebagai kepala keluarga. Ada keputusan-keputusan yang ia buat di masa lalu yang membawa dampak buruk bagi orang-orang yang ia sayangi. Ia merasa bahwa kanker itu adalah hukuman yang pantas untuk dirinya, sebuah cara untuk menebus dosa-dosanya tanpa harus berterus terang kepada keluarganya.
**Percakapan Batin yang Menyiksa**
“Kamu tidak seharusnya ada di sini,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Mereka seharusnya membiarkan semuanya berakhir. Tapi tidak... mereka malah memanggil Dewi untuk menyembuhkanku.”
Matanya menatap tajam ke arah pantulan dirinya di cermin. “Jan... bahkan kau pun terlibat dalam ini. Kenapa kalian tidak mengerti bahwa aku tidak mau disembuhkan?”
Ia menghela napas panjang, menahan amarah yang bergejolak di dalam dirinya. Bukan amarah kepada keluarganya atau para dewa, melainkan kepada dirinya sendiri.
**Kebangkitan yang Tak Diinginkan**
Ketika ia berbalik, langkah-langkah kakinya terdengar di lantai kayu yang memantulkan suara pelan. Ia mendekati pintu, mengintip ke arah ruangan tempat Maretha dan ibunya tidur. Wajahnya melunak sejenak, melihat mereka tertidur dengan tenang.
“Maafkan aku,” gumamnya pelan. “Kalian berusaha terlalu keras... tapi aku tidak bisa menerima ini.”
Ia menyandarkan dirinya pada dinding, membiarkan air mata yang selama ini ia tahan akhirnya mengalir. Ada sesuatu yang sangat berat dalam hatinya, sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan.
**Sebuah Keputusan Baru**
Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, suara lembut namun tegas tiba-tiba terdengar dari belakangnya. “Kau tidak terlihat seperti seseorang yang bersyukur atas kehidupan kedua.”
Ia tertegun, tubuhnya menegang. Ketika ia berbalik, ia melihat sosok Jan berdiri di tengah ruangan, memandangnya dengan mata yang tajam namun penuh pengertian.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan suara serak.
“Aku datang untuk memastikan penyembuhanmu berjalan baik,” jawab Jan dengan tenang. “Namun, sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan.”
**Dialog yang Menegangkan**
Bapak Maretha menghela napas panjang. “Aku tidak meminta ini. Aku tidak pernah meminta untuk disembuhkan. Kau tidak seharusnya membuang waktu dan tenagamu untukku.”
Jan mendekat, langkahnya anggun namun penuh kewibawaan. “Kau mungkin tidak memintanya, tapi keluargamu menginginkannya. Mereka tidak ingin kehilanganmu.”
“Mereka tidak mengerti!” sergahnya. “Aku sudah menerima takdirku. Penyakit ini adalah bagian dariku. Aku tidak butuh penyembuhan. Aku tidak pantas untuk hidup lebih lama.”
Jan menatapnya dalam-dalam, seolah mencoba menembus lapisan-lapisan dinding yang telah ia bangun di dalam dirinya. “Tidak pantas?” ulangnya pelan. “Atau kau hanya takut menghadapi kehidupan yang lebih panjang, dengan semua konsekuensi dan tanggung jawabnya?”
**Konflik Batin yang Memuncak**
Kata-kata itu menusuk hatinya. Ia terdiam, tidak bisa membalas. Dalam hatinya, ia tahu bahwa Jan benar. Selama ini, ia menggunakan penyakitnya sebagai pelarian, alasan untuk tidak menghadapi kesalahan masa lalunya.
“Aku...” suaranya tercekat. “Aku tidak tahu apakah aku bisa memperbaiki semuanya. Aku sudah terlalu lama hidup dengan penyesalan ini.”
“Dan itulah alasan mengapa kau diberi kesempatan kedua,” ujar Jan dengan lembut namun tegas. “Bukan untuk lari, tetapi untuk menghadapi apa yang kau hindari.”
**Harapan Baru**
Bapak Maretha menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia tidak pernah berpikir tentang hidup dari sudut pandang itu. Selama ini, ia hanya melihat penyakitnya sebagai hukuman, bukan sebagai peluang untuk berubah.
Jan meletakkan tangannya di bahunya. “Kesembuhan bukan hanya soal fisik, tapi juga hati dan pikiran. Kau harus belajar menerima dirimu sendiri, termasuk kesalahan-kesalahanmu. Itu satu-satunya cara untuk benar-benar hidup.”
Malam itu, Bapak Maretha mengalami kebangkitan lain—bukan hanya dari penyakitnya, tetapi juga dari beban emosional yang selama ini mengikatnya. Ia mulai memahami bahwa hidup adalah tentang perjuangan untuk memperbaiki, bukan sekadar menerima apa yang telah terjadi.
Ketika fajar menyingsing, ia akhirnya menemukan keberanian untuk menghadapi keluarganya dengan hati yang lebih terbuka. Dan di balik semua itu, Jan tersenyum puas, mengetahui bahwa ia telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.
.
Komentar
Posting Komentar