**Judul: Perjalanan Melintasi Waktu**
**Tema:** Eksplorasi waktu, kutukan, cinta dan obsesi
**Bab 1: Awal Mimpi**
Di suatu sore yang lembap di Jakarta tahun 2024, seorang pria bernama Yhuda Elsadai duduk diam di laboratorium pribadinya. Dengan mata misterius yang selalu memancarkan kecerdasan, Yhuda mengeksplorasi kemungkinan pembuatan mesin waktu. Di dunia ini, manusia mengenal tiga jenis kelamin: pria, wanita, dan intersex. Yhuda, seorang pria, dikenal sebagai ilmuwan yang genius. Namun, di balik senyum ramah dan kepandaian luar biasanya, dia menyimpan rahasia kelam. Untuk tetap terlihat menawan, dia harus membunuh satu orang setiap bulan. Kutukan yang membekap hidupnya dengan ketakutan dan kebencian pada dirinya sendiri.
**Maretha:** (berbisik) "Yhuda, mungkin kamu butuh istirahat sedikit. Kamu sudah berbulan-bulan di sini tanpa henti."
Yhuda tersenyum tanpa menoleh dari layar komputernya.
**Yhuda:** "Terima kasih, Maretha, tapi aku hampir selesai."
Maretha, seorang wanita muda yang terobsesi dengan Yhuda, merasa bahagia setiap kali Yhuda berbicara padanya. Obsesi ini membuat Yhuda sering kali merasa risih, namun dia berusaha mengabaikan perasaan itu, mengetahui bahwa Maretha tak pernah berbuat jahat padanya. Namun, dalam kesunyian malam, Yhuda pernah terbesit pemikiran kelam, menginginkan Maretha menghilang agar bebannya berkurang.
**Bab 2: Penemuan**
Pada suatu malam, petir bergemuruh di atas langit Jakarta. Yhuda terbangun oleh kilatan petir yang menyambar. Dalam kegelisahannya, dia berdiri di depan tabung besar yang mengandung prototip mesin waktu. Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul di benaknya.
**Yhuda:** "Maretha, ayo ke sini cepat! Aku butuh bantuamu."
Maretha dengan riang berlari masuk ke laboratorium.
**Maretha:** "Ada apa, Yhuda? Apa kamu butuh sesuatu?"
**Yhuda:** "Ya, aku butuh kamu menjadi saksi. Aku akan mencoba mesin waktuku malam ini."
Mata Maretha berbinar-binar dengan kekaguman yang tak tersembunyikan.
**Maretha:** "Apa?! Apa ini artinya...kamu berhasil?"
**Yhuda:** (tersenyum penuh arti) "Kita akan segera tahu."
**Bab 3: Perjalanan**
Dengan hati berdebar-debar, Yhuda mengatur koordinat dalam mesin waktu tersebut. Tahun 2224, karena rasa ingin tahunya yang besar terhadap masa depan. Maretha yang tidak ingin ketinggalan meminta ikut serta.
**Yhuda:** "Apakah kamu yakin, Maretha? Masa depan tidak pasti dan bisa berbahaya."
**Maretha:** "Selama ada kamu, Yhuda, aku tidak takut."
Yhuda menghela napas dan akhirnya mengizinkan Maretha untuk bergabung dengannya.
Mesin waktu mulai bergetar dan sinar terang mulai memenuhi ruangan. Di tengah kegamangan dan kecemasan, mereka berdua tiba-tiba merasakan dorongan kuat, dan kemudian...
**Bab 4: Tahun 2224**
Saat mesin waktu berhenti bergetar, Yhuda dan Maretha keluar dan mendapati diri mereka di tengah kota futuristik yang menakjubkan. Bangunan-bangunan menjulang tinggi dengan cahaya neon yang bercahaya. Mobil terbang melintas di atas kepala mereka. Namun, di balik keindahan kota ini, terlihat juga kemajuan teknologi yang mengancam.
**Maretha:** (dengan takjub) "Luar biasa, Yhuda! Kita benar-benar di masa depan..."
**Yhuda:** "Iya, ini menakjubkan, tapi kita harus berhati-hati."
Di tengah kekaguman mereka, Yhuda merasakan kembali desakan kutukannya. Sudah hampir sebulan sejak korban terakhirnya dan dia mulai merasa cemas. Namun, dengan fokus yang kuat, dia mencoba menjaga pikirannya tetap jernih.
**Bab 5: Konflik Internal**
Setiap hari yang mereka habiskan di tahun 2224, Maretha semakin menunjukkan obsesinya pada Yhuda. Suatu malam, Yhuda duduk termenung di tepi jendela apartemen futuristik mereka, memikirkan cara berpulang ke masa 2024.
**Maretha:** "Apa yang kamu pikirkan, Yhuda? Kenapa kamu selalu tampak jauh dariku?"
**Yhuda:** "Aku hanya memikirkan bagaimana caranya kita kembali. Tapi ada hal lain yang membebaniku..."
Maretha mendekat, memegang tangan Yhuda dengan lembut.
**Maretha:** "Apapun itu, kamu bisa berbagi denganku."
Yhuda menggenggam tangannya, merasakan cemas yang semakin pekat. Bibirnya bergetar.
**Yhuda:** "Maretha, ada sesuatu yang kamu harus tahu..."
**Bab 6: Pengakuan**
Dengan hati berat, Yhuda akhirnya menceritakan tentang kutukannya. Mata Maretha terbelalak.
**Maretha:** "Jadi, itu sebabnya kamu selalu nampak penuh beban? Kamu harus membunuh untuk tetap terlihat menawan?"
Yhuda mengangguk tanpa suara, merasa hatinya semakin berat. Dia tak berani menatap Maretha.
**Maretha:** "Tapi Yhuda... Aku tetap mencintaimu. Aku tetap ingin bersamamu."
Yhuda menatap heran. Maretha tidak menunjukkan ketakutan, malah semakin mendekat dan memeluknya.
**Bab 7: Pilihan Terakhir**
Hari-hari berlalu dan kutukan Yhuda semakin mendesak. Setelah pertimbangan panjang, dia mulai merasakan dorongan kuat untuk menghilangkan Maretha, meski itu berarti harus menghabisinya.
Suatu malam saat mereka sendirian di laboratorium, Yhuda mengeluarkan belati dari sakunya. Maretha yang merasakan kegelapan di balik mata Yhuda, tiba-tiba berbalik.
**Maretha:** "Apa yang kamu lakukan, Yhuda?!"
**Yhuda:** (suara bergetar) "Aku... Aku harus melakukannya. Ini satu-satunya cara..."
Maretha terdiam, air mata mulai menggenang di matanya. Dia dengan hati-hati mendekat.
**Maretha:** "Kalau begitu, lakukannya. Jika itu bisa membuatmu bebas, aku rela."
**Bab 8: Resolusi**
Yhuda tertegun. Kata-kata Maretha menembus hatinya seperti belati tajam. Dengan gemetar, dia meletakkan belati di lantai.
**Yhuda:** "Tidak, Maretha. Aku tidak bisa melakukannya. Kutukan ini tidak sebanding dengan kehilanganku padamu."
Air mata Maretha mengalir, dan mereka berpelukan erat.
Di hari-hari berikutnya, Yhuda dan Maretha akhirnya menemukan cara untuk kembali ke tahun 2024. Saat mereka memasukkan koordinat dan mesin waktu kembali berderak, Yhuda berjanji untuk mencari cara mengakhiri kutukannya tanpa merugikan orang lain.
**Epilog**
Di tahun 2024, Yhuda terus bekerja keras memecahkan misteri kutukan ini, selalu didampingi oleh Maretha yang setia. Mereka berdua menyadari bahwa cinta dan pengorbanan Maretha telah memberi Yhuda kekuatan untuk memilih jalan yang benar, meski dihadapkan pada tekanan kutukan yang berat.
Yhuda akhirnya menemukan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang menjadi sempurna di mata orang lain, tapi berani menghancurkan monster di dalam diri sendiri demi orang yang kita cintai. Maretha, tanpa ragu, menyadari bahwa cinta merupakan pengorbanan yang tulus, sekalipun itu berarti berdiri di hadapan kegelapan yang mendalam.
---
**Tamat.**

Komentar
Posting Komentar