### **Bab 5: Beban Sang Penolak**
Langit senja menyelimuti SMP Negeri 35, warna jingga keemasan memancar dari ufuk barat, melukiskan bayangan panjang di koridor sekolah. Suara-suara riuh rendah para siswa yang masih sibuk dengan kegiatan proyek kelas menjadi latar belakang aktivitas hari itu. Meski suasana terasa hidup, di sudut kelas 7E, Yuda duduk diam, mencoba mengabaikan kegaduhan di sekitarnya.
Tatapannya mengarah ke luar jendela, tapi pikirannya terjebak dalam perasaan janggal. Seminggu terakhir, panggilan "ahli magis" yang dilemparkan beberapa temannya terus menghantui benaknya. Ia tidak suka. Sama sekali tidak. Bukan karena merasa terganggu, tetapi ada sesuatu yang menyeramkan dari sebutan itu.
> *"Ahli magis? Apa mereka bercanda? Aku ini bukan sesuatu yang istimewa. Aku hanya... aku."*
Belum lagi Abi, salah satu teman sekelasnya yang tiba-tiba sering nimbrung dengannya. Biasanya, Abi lebih sering bersama geng jagoan 7F yang dikenal sebagai gudangnya anak nakal. Tapi akhir-akhir ini, Abi malah sering muncul di lingkaran kecil Yuda bersama Afikah dan Aditio.
“Kenapa dia belakangan sering ikut kita?” gumam Yuda dalam hati.
“Yud, lagi melamun, ya?” suara Aditio memecah lamunannya.
Yuda mengangkat bahu tanpa ekspresi. “Nggak. Hanya berpikir.”
Afikah yang duduk di seberang meja ikut menambahkan, “Mungkin Yuda lagi kepikiran panggilan ‘ahli magis.’”
“Aku serius, jangan panggil aku seperti itu.” Nada suara Yuda tegas.
Afikah terkekeh kecil, meskipun jelas Yuda tidak bercanda. “Oke, oke, tenang saja. Aku cuma bercanda, kok.”
---
Hari itu, sekolah mengadakan kegiatan proyek besar, sehingga semua siswa harus pulang lebih malam dari biasanya. Sebelum pulang, Yuda dihampiri Hana.
“Yuda,” panggil Hana pelan.
“Hm? Ada apa?”
“Boleh minta tolong?” Wajah Hana terlihat sedikit ragu. “Ayahku meminta kamu mengantarku pulang. Katanya dia sedang lembur dan tidak bisa menjemput.”
Yuda mengangguk tanpa banyak pertanyaan. Hana adalah tetangga sekaligus teman masa kecilnya. Ia tahu betul keluarga Hana, dan permintaan ini bukan sesuatu yang aneh.
“Baiklah. Tapi jangan lupa kasih tahu ayahmu, aku bawa motor butut.” Yuda menunjuk sepeda motor Revo kesayangannya yang terlihat sudah tua.
Hana tertawa kecil. “Motor itu masih bagus, kok.”
---
Mereka berdua akhirnya meninggalkan sekolah dengan motor Revo milik Yuda. Jalanan mulai lengang, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Suasana perjalanan cukup tenang, sampai suara bising dari belakang menarik perhatian mereka.
Dari kaca spion, Yuda melihat sekelompok anak SMP mengendarai motor secara ugal-ugalan. Salah satu dari mereka terlihat familiar.
“Kenal mereka?” tanya Hana.
“Cuma tahu muka. Anak satu sekolah, tapi beda kelas,” jawab Yuda.
Namun, ketenangan mereka berubah menjadi kekacauan dalam hitungan detik. Salah satu motor melaju terlalu cepat, kehilangan kendali, dan menabrak pembatas jalan. Pengemudi, yang belakangan diketahui bernama Arlanga, terlempar dari motornya. Tubuhnya menghantam aspal dengan keras, dan pecahan kaca spion menancap di lehernya.
---
Yuda segera menghentikan motornya dan berlari ke arah Arlanga, meninggalkan Hana yang terlihat kebingungan.
“Yuda, apa yang kamu lakukan?!” teriak Hana dari kejauhan.
Namun Yuda tidak menjawab. Ia mendekati tubuh Arlanga yang tergeletak dengan kondisi mengerikan. Darah mengalir deras, membuat genangan kecil di aspal.
“Ini buruk,” gumam Yuda sambil mengamati luka di leher Arlanga.
Napas Arlanga tersengal, nyaris hilang. Dalam benaknya, Yuda tahu Arlanga tidak akan bertahan. Tapi sesuatu di dalam dirinya mendorongnya untuk bertindak.
“Hana, mundur!” perintah Yuda tegas.
“Apa yang kamu lakukan?” Hana memekik, tetapi akhirnya mundur beberapa langkah.
Yuda menarik napas dalam-dalam, menenangkan pikirannya. Ia mengangkat tangannya, dan udara di sekitarnya tiba-tiba berubah. Lingkaran cahaya kehijauan dengan simbol-simbol kuno muncul di tanah di sekitar tubuh Arlanga.
“Recovery,” bisik Yuda, hampir seperti mantra.
Lingkaran sihir itu mulai berputar, memancarkan cahaya lembut yang menenangkan. Luka di leher Arlanga perlahan tertutup, darah berhenti mengalir, dan tubuhnya kembali ke kondisi semula. Namun, di balik keajaiban itu, ada harga yang harus dibayar.
---
**Sakit itu datang.**
Rasa perih yang dialami Arlanga kini berpindah ke tubuh Yuda, tetapi dalam intensitas ribuan kali lipat. 2300 kali, untuk lebih tepatnya. Tubuh Yuda langsung melemah. Rasanya seperti ada ribuan duri yang menusuk lehernya, membakar sarafnya, menghancurkan tubuhnya dari dalam.
Yuda terhuyung, hampir terjatuh. Matanya memerah, napasnya berat.
> *"Kenapa harus selalu seberat ini? Tapi... ini harga yang harus dibayar. Jika aku tidak melakukannya, siapa lagi?"*
Keringat mengalir deras dari dahinya. Tangannya bergetar, namun ia tetap berdiri, menahan rasa sakit itu.
“Yuda!” Hana berteriak panik. “Kamu kenapa?!”
“Jangan mendekat!” Yuda menggeram, suaranya penuh dengan rasa sakit. “Aku baik-baik saja. Jangan ganggu proses ini.”
Tubuh Yuda terasa seperti akan runtuh. Namun, ketika lingkaran sihir mulai memudar, rasa sakit itu perlahan mereda. Napasnya kembali stabil, meski tubuhnya lemas tak berdaya.
Arlanga, yang kini sepenuhnya pulih, membuka matanya dengan bingung. Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Hana berlari mendekat, memegangi Yuda yang hampir jatuh ke tanah. “Yuda, kamu gila! Apa yang kamu lakukan tadi?!”
Namun, Yuda hanya tersenyum lemah. “Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan.”
Hana menatapnya, masih dengan campuran rasa takut dan kagum.
> *"Ahli magis? Jangan panggil aku begitu. Ini bukan keajaiban, ini kutukan."*

Komentar
Posting Komentar