Malam itu, aku berdiri sendirian di balkon rumah, menatap langit yang penuh bintang. Udara malam yang dingin membuatku menarik jaket lebih rapat, tetapi ada sesuatu yang tak biasa di udara malam itu—sesuatu yang hampir tak bisa kutangkap dengan akal, namun sangat terasa di dalam hati. Pikiranku melayang, mengingat ibu, kakakku, dan kekasihku yang jauh di sana. Aku merindukan mereka, namun ada sesuatu dalam diriku yang merasa kosong, seperti ada sesuatu yang belum selesai.
Tiba-tiba, seberkas cahaya terang muncul di langit, lebih terang dari bintang mana pun. Cahaya itu bergerak mendekat, semakin besar dan memancar, hingga akhirnya membentuk sosok yang lebih besar dari kehidupan. Sosok itu bersinar begitu terang sehingga aku tak bisa memandangnya sepenuhnya. Namun, dalam sinar yang membutakan itu, suara-Nya terdengar begitu jelas.
“Yhuda, Aku memanggilmu.”
Suara itu lembut, namun penuh wibawa, bagaikan suara guntur yang menggetarkan bumi, namun tetap penuh kasih. Aku terkesiap, tak tahu harus berbuat apa, hanya berdiri di sana, tak bisa bergerak. “Siapa… siapa kamu?” tanyaku dengan suara gemetar, meskipun aku tahu jawabannya tanpa perlu berkata-kata.
“Aku adalah YHWH, Tuhanmu, Penciptamu. Aku memanggilmu untuk sebuah misi yang sangat penting. Sebuah misi yang hanya bisa kau jalani.”
Aku terdiam, kebingunganku berubah menjadi rasa tak percaya. “Tuhan? Apa yang Engkau inginkan dariku?”
“Aku ingin engkau kembali ke abad pertama, di Betlehem. Saksikan kelahiran Anak-Ku, Yesus Kristus, dan menjadi saksi sejarah yang akan mengubah dunia untuk selamanya. Namun, perjalanan ini bukan tanpa pengorbanan. Aku memberimu kehidupan kekal. Kau tak akan terluka, tak akan sakit, tetapi ini adalah perjalanan yang akan menguji hatimu.”
Kata-kata-Nya menusuk ke dalam sanubari. Aku merasa seperti dunia ini berhenti sejenak, dan aku hanya berdiri dalam keheningan, mencerna setiap kata yang keluar dari-Nya.
“Apakah aku layak untuk melakukan ini?” tanyaku, lebih kepada diriku sendiri, meskipun aku tahu jawabannya tidak mudah.
YHWH mengangguk. “Kau dipilih karena hatimu yang tulus. Tapi ingat, perjalanan ini tidak akan mudah. Engkau akan melihat keajaiban, tetapi juga penderitaan yang tak terbayangkan.”
Aku masih ragu, masih terombang-ambing antara rasa takut dan rasa rindu akan misi yang luar biasa ini. “Aku tak bisa pergi sendirian, Tuhan. Aku harus mengajak teman-temanku. Mereka yang selalu ada bersamaku.”
Tuhan diam sejenak, lalu berbicara dengan suara yang penuh kasih. “Engkau boleh mengajak sahabatmu. Tapi ingat, mereka yang kau ajak harus siap dengan perjalanan ini. Mereka yang lain tidak dapat ikut serta.”
Aku berpikir sejenak, kemudian mengingat dua sahabat terbaikku, Arthur dan Fajar. Mereka adalah teman yang tak pernah meninggalkanku, yang selalu ada dalam suka dan duka. “Aku ingin membawa Arthur dan Fajar, Tuhan. Mereka adalah yang terbaik.”
YHWH mengangguk, mengizinkan. Namun, saat aku memanggil mereka, suasana menjadi lebih berat. Wajah mereka bingung, penuh tanya, namun aku tahu mereka takkan bisa menolak saat mendengar penjelasanku. Aku menjelaskan dengan hati yang penuh keraguan, bahwa ini adalah panggilan Tuhan, sebuah misi besar yang akan mengubah hidup kami selamanya.
Tentu saja, mereka tak bisa langsung menerima. Fajar berkata dengan suara serak, “Kau bercanda, Yhuda. Kami punya keluarga, punya kehidupan. Ini semua… terlalu gila.”
Arthur yang biasanya tenang, kini tampak bingung. “Apa maksudnya ini? Kenapa kita harus pergi ke masa lalu? Kita tak bisa meninggalkan semuanya begitu saja.”
Hatiku berat, mendengar kata-kata mereka. Aku merasa terpecah antara kewajiban dan cinta pada sahabat-sahabatku. Aku meminta kepada Tuhan untuk memberi mereka petunjuk, agar mereka bisa memahami. Dan Tuhan datang dekat, mendekati mereka, memberi mereka keyakinan.
“Apa yang kalian saksikan hari ini adalah kebenaran, dan kalian dipilih untuk menjadi bagian dari sejarah ini. Keputusan kalian akan menentukan masa depan, tidak hanya bagi diri kalian, tetapi juga bagi dunia yang akan datang.”
Setelah banyak diskusi dan perdebatan panjang, akhirnya Arthur dan Fajar memutuskan untuk mengikuti. Namun, aku tahu mereka melakukannya dengan berat hati. Mereka tak benar-benar siap, tetapi mereka tahu bahwa ini adalah misi yang lebih besar dari apapun yang mereka pahami.
Dan begitu, tanpa pamit pada keluarga, kami berangkat. Kami tak diizinkan untuk memberi tahu siapa pun, meski hatiku berat. Aku hanya bisa menatap foto ibu, kakakku, dan kekasihku yang ada di ponsel, berharap suatu saat nanti bisa kembali. Tuhan memberikan kami ponsel yang memiliki kekuatan tak terbatas—baterai tak pernah habis, dan kami bisa menyimpan kenangan, meskipun dunia yang kami tinggalkan begitu jauh.
Kami berjalan menuju tempat yang tak pernah kami bayangkan—ke abad pertama, ke Betlehem, tempat kelahiran Sang Juruselamat. Perjalanan yang dimulai dengan penuh ragu kini menjadi perjalanan tak terduga, mengungkapkan kisah yang lebih besar dari apapun yang pernah kami bayangkan.

Komentar
Posting Komentar