Keterikatan Tak Terelakkan part 5 bagian 2




 ### Bab 5 Bagian 2: Harga yang Tak Terlihat  


Arlanga perlahan membuka matanya. Pandangannya masih buram, tetapi ia bisa merasakan sesuatu yang aneh. Tubuhnya terasa ringan, meskipun kenangan terakhirnya adalah rasa sakit luar biasa di lehernya.  


“Arlanga! Kau baik-baik saja?” teriak salah seorang temannya yang berlari menghampiri.  


“Aku... aku hidup?” gumam Arlanga, bingung. Tangannya menyentuh lehernya, mencoba memastikan luka yang tadi nyaris merenggut nyawanya benar-benar hilang.  


“Apa yang terjadi?” tanya salah satu temannya, menatap Yuda dengan tatapan penuh curiga.  


Yuda berdiri agak jauh, tangannya gemetar sementara napasnya tersengal-sengal. Wajahnya pucat pasi, tetapi matanya tetap tajam. “Bawa dia pulang. Dia butuh istirahat. Jangan banyak bicara.”  


Mereka ragu sejenak, tetapi rasa panik lebih mendominasi. Dua orang segera membantu Arlanga berdiri dan memapahnya menuju salah satu motor.  


“Terima kasih,” ucap salah satu dari mereka, walaupun dengan suara yang masih diliputi kebingungan. Yuda hanya mengangguk kecil, tidak mengatakan apa-apa lagi.  



---


**Perjalanan Pulang yang Sunyi**  


Yuda kembali ke motor bututnya di mana Hana telah menunggunya. Raut wajah Hana menunjukkan kekhawatiran yang dalam.  


“Yuda, kau terlihat sangat buruk. Apa kau yakin bisa mengemudi?” tanyanya.  


“Aku baik-baik saja,” jawab Yuda singkat, meskipun nada suaranya terdengar lemah.  


Selama perjalanan pulang, suasana di antara mereka terasa sunyi. Hanya suara mesin motor dan angin malam yang terdengar. Namun, Hana tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.  


“Tadi itu... apa yang kau lakukan pada Arlanga?” tanyanya tiba-tiba.  


“Recovery,” jawab Yuda singkat.  


“Recovery? Maksudmu... menyembuhkan?” Hana mendesak, suaranya terdengar lebih keras karena melawan hembusan angin.  


“Ya.”  


“Bagaimana caranya? Itu bahkan bukan luka kecil, Yuda. Dia hampir mati! Dan kau... kau menyelamatkannya seperti itu hal yang biasa!”  


Yuda menarik napas panjang sebelum menjawab, suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya. “Setiap luka yang kusembuhkan... aku membayarnya dengan rasa sakit yang sama.”  


Hana terdiam sejenak, mencoba memahami arti kata-kata itu. “Jadi, rasa sakit yang kau rasakan tadi... itu berasal dari luka Arlanga?”  


“Bukan hanya itu,” Yuda menjelaskan, suaranya lebih serius. “Rasa sakitnya sering kali berkali-kali lipat. Tidak hanya fisik, tetapi juga semua beban yang datang bersamanya.”  


Hana menatap punggung Yuda dengan perasaan yang bercampur aduk—antara kagum, khawatir, dan sedikit rasa bersalah. “Kenapa kau mau melakukan itu?”  


“Karena jika aku tidak melakukannya, siapa yang akan melakukannya?” jawab Yuda tanpa ragu.  


---


**Makan Malam di Rumah Hana**  




Ketika mereka sampai di rumah Hana, lampu beranda telah menyala, dan aroma masakan memenuhi udara. Ayah Hana, Pak Surya, sedang duduk di kursi rotan sambil membaca koran tua.  


“Yuda,” sapa Pak Surya sambil tersenyum. “Terima kasih sudah mengantar Hana. Ayo, singgah dulu. Kami baru selesai menyiapkan makan malam.”  


Yuda ragu sejenak. “Terima kasih, Pak, tapi—”  


“Tidak ada tapi,” potong Pak Surya tegas. “Kau sudah banyak membantu keluarga kami. Setidaknya biarkan kami berterima kasih dengan makan malam sederhana.”  


Yuda tidak punya pilihan. Ia melepas helmnya dan mengikuti Hana masuk ke dalam rumah. Di meja makan, ibu Hana sedang menyajikan sup ayam hangat, sementara dua adik Hana, Rini dan Bayu, sibuk bercanda satu sama lain.  


“Kak Yuda! Ayo duduk!” seru Bayu dengan antusias.  


Yuda tersenyum kecil. Ia jarang menerima sambutan hangat seperti ini di rumahnya sendiri. “Terima kasih, Bayu.”  


---


Selama makan malam, suasana terasa hangat. Obrolan santai memenuhi ruangan, hingga akhirnya Pak Surya mengarahkan pembicaraan ke topik yang lebih serius.  


“Yuda, kau tahu banyak hal aneh terjadi belakangan ini, kan?” tanyanya.  


Yuda terdiam sejenak, menyuapkan nasi ke mulutnya sebelum menjawab. “Aneh seperti apa, Pak?”  


“Rumor soal perkelahian di sekolah, anak-anak yang diserang, dan bahkan... cerita tentang hal-hal di luar nalar. Kau tahu sesuatu soal itu?”  


Hana menatap ayahnya dengan gelisah, mencoba menghentikan pembicaraan. “Ayah, ini bukan saat yang tepat—”  


“Tidak apa-apa,” potong Yuda. “Aku pernah mendengar beberapa rumor. Tapi saya rasa itu hanya cerita yang dibesar-besarkan.”  


Pak Surya menghela napas. “Mungkin. Tapi kau harus berhati-hati, Nak. Dunia ini penuh orang yang tidak suka dengan hal yang tidak bisa mereka pahami.”  


Yuda mengangguk pelan, tetapi kata-kata Pak Surya tetap terngiang di pikirannya.  


---


**Perjalanan Pulang**  


Setelah makan malam, Yuda berpamitan. Hana mengantarnya hingga ke pintu, raut wajahnya masih menyimpan kekhawatiran.  


“Yuda,” panggil Hana pelan.  


“Hm?”  


“Terima kasih.”  


Yuda tersenyum tipis. “Untuk apa?”  


“Untuk semuanya. Untuk Arlanga. Untuk... selalu ada.”  


Yuda hanya mengangguk, tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menaiki motor bututnya dan melaju di bawah langit malam yang gelap.  


Namun, rasa sakit dari efek recovery mulai merayap lagi ke tubuhnya. Setiap napas terasa berat, setiap otot terasa menjerit.  


> *“Harga ini... semakin berat.”*  


Namun, ada sesuatu yang mengimbanginya—makan malam hangat bersama keluarga Hana, senyuman Hana, dan perasaan bahwa ia tidak sepenuhnya sendiri.  


Saat ia tiba di rumah, tubuhnya terasa hampir runtuh, tetapi hatinya terasa lebih ringan. Sambil merebahkan diri di atas tempat tidur, Yuda bergumam, “Aku akan terus melindungi mereka. Tidak peduli apa yang harus aku bayar.”  

Komentar