**Judul: "Dunia yang Terpecah"**
**1**
Aku terbangun dari tidur dengan perasaan aneh, keringat dingin mengalir di pelipis. Mimpi buruk? Tapi tidak—ini nyata. Di langit malam, aku melihat sesuatu yang mustahil: sebuah planet lain, kembar identik dengan Bumi, melayang mendekat. Warnanya biru kehijauan, seperti replika globe di ruang geografi sekolah. Tapi ini nyata. Planet itu semakin dekat, membesar, seolah siap menghancurkan segalanya.
Aku bergegas keluar kamar dan menemukan kakakku, Rahel, sudah berdiri di ruang tamu, matanya terpaku ke layar televisi. Di sebelahnya, Ibu memegang rosario erat-erat. Di TV, seorang pembawa berita terlihat panik, menjelaskan bahwa sebuah planet misterius muncul entah dari mana dan kini bergerak mendekati Bumi dengan kecepatan tak terduga.
"Yhuda, apa ini kiamat?" Rahel bertanya tanpa menoleh.
Aku terdiam sejenak, menatap layar dan kemudian ke langit luar jendela. "Aku tidak tahu."
**2**
Malam itu terasa seperti menunggu akhir dunia. Planet itu mendekat begitu cepat hingga kami semua yakin tabrakan tak bisa dihindari. Ibu menggenggam tanganku dan Rahel erat-erat. Tapi ketika planet itu hampir menabrak, sesuatu yang ajaib terjadi: ia meleset, berputar menjauh dari orbit Bumi.
"Selamat!" seseorang di televisi bersorak. Tapi kelegaan itu hanya bertahan sebentar. Gravitasi Bumi perlahan menarik planet itu kembali, dan kali ini, keajaiban lain terjadi—bukan tabrakan, melainkan pembagian.
**3**
Dalam sekejap, Bumi terpecah menjadi beberapa bagian. Tetapi bagian-bagian itu tidak hanya berupa kepingan. **Masing-masing pecahan berubah menjadi planet baru, sebuah Bumi kecil dengan kehidupan berbeda.** Ketika kami menatap ke langit, kami melihat lima atau enam planet biru yang mengambang, masing-masing mengorbit pusat gravitasi bersama.
"Apa yang baru saja terjadi?" Rahel bergumam, suaranya bergetar.
Ibu hanya terdiam, mulutnya terbuka lebar melihat fenomena yang tak dapat dijelaskan.
**4**
Aku berjalan kaki malam itu, mencoba menjernihkan pikiran. Jalanan sunyi, hanya ada suara angin yang berdesir lembut. Ketika aku tiba di lapangan terbuka, aku mendongak ke langit. Di sana, bulan purnama terlihat jelas, tetapi ada sesuatu yang aneh.
Warnanya abu-abu kusam, bukan kuning seperti biasanya. Lebih aneh lagi, bayangan berbentuk sabit di permukaannya bergerak cepat, seolah bulan sedang berputar dengan kecepatan tak wajar. Aku berhenti melangkah, memandanginya dengan perasaan takut dan kagum.
Dari sudut mataku, aku menyadari sesuatu yang lebih menyeramkan: **langit berubah begitu cepat seolah-olah Bumi sedang berputar lebih cepat dari biasanya.** Bintang-bintang melintas seperti garis panjang, dan bulan tampak bergerak dari satu sisi langit ke sisi lain dalam hitungan menit.
"Apa yang terjadi dengan dunia kita?" gumamku sambil menatap ke langit, tubuhku bergidik. Kecepatan pergerakan ini membuatku merasa Bumi bisa kehilangan keseimbangannya kapan saja.
**5**
Aku kembali ke rumah, masih dalam keadaan bingung. Aku menemukan Rahel berdiri di depan jendela kamar, memandangi langit yang sama.
"Kau melihatnya juga, kan?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk, masih merasakan kegelisahan. "Sepertinya… semuanya tidak lagi sama. Bahkan bulan tidak lagi seperti yang kita tahu."
Rahel menoleh padaku, matanya penuh kekhawatiran. "Bagaimana kalau ini hanya permulaan? Bagaimana kalau sesuatu yang lebih buruk sedang terjadi?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kami hanya berdiri di sana, menatap ke luar jendela, menunggu pagi datang—atau apa pun yang tersisa dari dunia kami.
**6**
Hari-hari berikutnya, kami menyadari dunia yang benar-benar baru ini. Tidak ada kiamat, tetapi ada perubahan besar. Setiap pecahan Bumi, setiap planet baru, memiliki populasinya sendiri. Tetangga kami di sebelah tidak lagi ada, tetapi orang-orang baru muncul di sekitar kami. **Internet tetap ada, tetapi kini terbagi. Kami hanya bisa terhubung dengan mereka yang berada di Bumi kami sendiri.**
Rahel berusaha mencari teman-temannya di media sosial, tetapi sebagian besar dari mereka tidak lagi ada di sana. "Mereka sudah pindah ke Bumi lain, mungkin," kataku mencoba menenangkannya.
"Tapi bagaimana kita bisa bertemu lagi?" Rahel bertanya, suaranya serak.
Aku tidak punya jawaban.
**7**
Ibu mulai menerima kenyataan ini dengan pasrah. "Tuhan punya rencana," katanya sambil memandang langit malam. "Mungkin kita diberi kesempatan untuk memulai ulang semuanya."
"Apa maksud Ibu, memulai ulang?" tanyaku.
"Manusia terlalu banyak konflik, terlalu banyak perbedaan. Mungkin inilah caranya kita disebar ke dunia yang lebih kecil, sesuai dengan hati dan pemikiran kita."
**8**
Aku tidak bisa tidur malam itu. Langit penuh dengan planet-planet baru. Aku merasa kecil, seperti hanya bagian dari teka-teki besar yang tidak pernah benar-benar kupahami. Setiap planet terlihat seperti Bumi, tetapi memiliki nuansa yang sedikit berbeda. Aku bertanya-tanya seperti apa kehidupan di sana.
"Apa menurutmu kita akan pernah pergi ke sana?" Rahel duduk di sebelahku, membawa selimut.
"Mungkin suatu hari. Tapi untuk sekarang, aku rasa kita hanya bisa bertahan di sini."
**9**
Hari-hari berikutnya terasa seperti fajar dunia baru. Kehidupan perlahan kembali normal. Orang-orang yang tersisa di Bumi kami mulai membangun ulang hubungan mereka. Anehnya, tidak ada kerusakan besar. Kota-kota tetap utuh, laut tetap bergelombang, tetapi banyak wajah baru di sekitar kami.
Di internet, aku membaca cerita dari mereka yang ada di planet lain. Ada yang mengatakan dunia mereka lebih hangat, ada yang lebih dingin. Ada yang melaporkan pemandangan baru, satwa yang berbeda, bahkan langit dengan warna-warna aneh.
**10**
Aku berjalan di pantai suatu pagi dan melihat bayangan di cakrawala—sebuah planet lain, salah satu dari pecahan Bumi, mengorbit perlahan. Di belakangnya, bulan purnama abu-abu masih berputar dengan cepat, menjadi simbol perubahan besar yang tak bisa dijelaskan.
"Yhuda," panggil Ibu dari belakangku. "Apa yang kau pikirkan?"
Aku menoleh dan tersenyum kecil. "Aku berpikir… dunia ini belum berakhir. Ini hanya cara baru untuk memulai."
Ibu mengangguk pelan, lalu menggenggam tanganku. Di sebelahnya, Rahel tersenyum tipis. Mungkin ini bukan akhir dari segalanya. **Ini hanya awal dari kisah baru, di dunia yang kini terpecah, tetapi tetap indah dalam keanehannya.**
---

Komentar
Posting Komentar