Keterikatan Tak Terelakkan part 1



 ### **Bab 1: Harga Diri di Ujung Tali**  


Di sebuah sekolah menengah pertama, suasana pagi itu seperti biasa. Para siswa sibuk dengan aktivitas masing-masing. Yuda, seorang siswa kelas 7A yang cukup dikenal karena ketenangannya, memiliki kebiasaan unik. Ia sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya dari kelas 7B, yaitu Aditio dan Atikah. Meskipun mereka sering dianggap anak-anak yang kurang menonjol oleh teman-teman lain, Yuda selalu merasa nyaman di antara mereka.


Hari itu, kelas 7A sedang kosong. Sebagian siswa berjalan keluar kelas, sementara yang lain tetap berada di dalam. Hana, seorang siswi yang sudah lama dikenal Yuda sejak kecil, sedang duduk di mejanya. Suasana kelas yang tenang tiba-tiba berubah ketika Abi, salah satu siswa yang gemar bercanda kelewatan batas, mendekatinya.


“Pinjam penghapus sebentar,” ujar Abi sambil berjalan mendekati Hana. Namun, tiba-tiba ia menarik tali bra Hana yang tampak di punggungnya.  


Hana terkejut dan segera menoleh dengan wajah marah. “Abi! Apa yang kamu lakukan?!”


Namun, Abi hanya tertawa santai. “Tenang saja, aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius.”  


Hana memandang sekeliling, berharap seseorang membantunya. Kekasih Hana yang berada di sudut kelas tampak tidak melakukan apa-apa. Ia hanya menunduk, pura-pura sibuk dengan bukunya. Namun, tanpa disadari, Yuda yang sedang melintas mendengar kejadian itu.  


Wajah Yuda berubah serius. Langkahnya semakin cepat menuju ke arah Abi. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung menghantam dada Abi dengan keras. Abi terhuyung mundur dan menabrak meja hingga terjatuh.  


“Apa yang kamu pikirkan, Abi?!” bentak Yuda dengan nada tinggi, matanya penuh amarah.  


Abi yang terkejut berusaha bangkit. “Aku hanya bercanda, Yuda! Tidak perlu berlebihan seperti ini!”  


“Bercanda? Menurutmu melecehkan teman itu bercanda?” Yuda mendekat, menarik kerah baju Abi dan menatapnya tajam. “Kalau kamu melakukan hal seperti ini lagi, aku pastikan kamu akan menyesal.”  


Abi terdiam, tak mampu menjawab. Hana yang masih terkejut hanya memandang Yuda dengan ekspresi campur aduk antara lega dan bingung. Suasana kelas yang semula gaduh kini berubah hening. Semua siswa memandang Yuda dan Abi tanpa berani berkata apa-apa.  


Setelah beberapa saat, Yuda melepaskan cengkeramannya. Abi jatuh terduduk di lantai, masih terengah-engah. Namun, sebelum Yuda pergi, Abi mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk menggertak.  


“Yuda, tunggu saja nanti di depan gerbang sekolah. Aku tidak akan sendiri,” katanya dengan suara yang gemetar.  


Yuda menoleh dengan tatapan dingin. “Silakan saja, Abi. Aku akan menunggu.”  


---


#### **Di Kelas 7B**  


Setelah meninggalkan kelas 7A, Yuda berjalan menuju kelas 7B, tempat biasa ia berkumpul dengan Aditio dan Atikah. Wajahnya masih menyiratkan kemarahan, meskipun langkahnya sudah kembali tenang.  


“Yuda, kamu kenapa? Sepertinya ada sesuatu yang terjadi,” tanya Aditio sambil menutup buku gambarnya.  


“Abi. Dia kurang ajar pada Hana,” jawab Yuda singkat, duduk di sudut ruangan.  


Atikah mengerutkan kening. “Abi? Bukankah dia anak yang sering membuat masalah? Apa yang dia lakukan kali ini?”  


Yuda menghela napas. “Dia menarik tali bra Hana di depan semua orang. Aku tidak bisa diam melihat itu.”  


“Dan kamu bertindak, tentu saja,” kata Aditio sambil mengangguk pelan. “Tapi, Yuda, Abi itu biasanya tidak sendiri. Kalau dia mengancam, itu berarti dia serius.”  


“Dia bilang akan menungguku di gerbang sekolah bersama teman-temannya. Aku sudah siap,” jawab Yuda dengan tenang.  


Atikah tampak khawatir. “Yuda, ini bukan hanya soal berani atau tidak. Kalau mereka benar-benar banyak, kamu bisa dalam bahaya.”  


“Aku tahu, tapi aku tidak akan mundur. Kalau aku membiarkan hal ini, itu artinya aku membiarkan mereka merendahkan orang lain.”  


Aditio dan Atikah saling bertukar pandang. Mereka tahu Yuda selalu berpegang teguh pada prinsipnya, tetapi mereka juga tidak ingin temannya itu terluka.  


“Jika mereka benar-benar datang, kami akan ada di sana,” kata Aditio akhirnya.  


“Aku tidak meminta bantuan, tapi terima kasih,” balas Yuda sambil tersenyum tipis.  


---


#### **Pertemuan di Gerbang Sekolah**  


Ketika bel tanda pulang berbunyi, para siswa mulai berbondong-bondong keluar dari kelas. Di depan gerbang sekolah, Abi sudah menunggu bersama lima orang temannya. Mereka berdiri dengan sikap yang sok menantang, memandang setiap siswa yang lewat dengan tatapan penuh intimidasi.  


Yuda keluar dari pintu kelas 7B dengan langkah tenang. Ia sudah melihat Abi dari kejauhan, tetapi tidak ada sedikit pun rasa gentar di wajahnya. Aditio dan Atikah berjalan beberapa langkah di belakangnya, siap untuk menyaksikan apa yang akan terjadi.  


“Yuda!” Abi berteriak ketika melihatnya. “Kamu benar-benar datang. Hebat juga keberanianmu.”  


Yuda menghentikan langkahnya beberapa meter dari Abi dan teman-temannya. Ia menyilangkan tangan di dada, memandang mereka dengan santai. “Kamu sudah menunggu lama? Ayo, lakukan apa yang ingin kamu lakukan.”  


Abi tersenyum sinis, memberi isyarat kepada teman-temannya untuk mendekat. Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, Yuda sudah mengencangkan otot-ototnya, bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.  


(To Be Continued...)  

Komentar