### **Bab 2: Jawaban dari Gudang Tak Terlihat**
Abi berdiri di tengah lingkaran 12 orang lainnya, semua tampak siap menghajar Yuda. Suasana di depan gerbang sekolah berubah mencekam. Beberapa siswa yang hendak pulang memilih memutar jalan, tidak ingin terjebak dalam keributan. Abi tersenyum penuh kemenangan, yakin bahwa Yuda tidak akan bisa keluar dari situasi ini tanpa luka.
“Jadi, kamu tetap datang meskipun tahu kami sudah menunggumu,” ujar Abi dengan nada mengejek. “Kamu mungkin pintar, Yuda. Tapi keberanianmu kali ini akan jadi kesalahan terbesar.”
Yuda memandang mereka semua dengan tenang, matanya memindai setiap sudut. Ia menyadari jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang ia perkirakan. Tiga belas orang, masing-masing dengan postur yang lebih besar dari rata-rata anak SMP. Namun, Yuda tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut.
**“Ini seperti ujian,”** pikir Yuda dalam hati. **“Aku tidak pernah lari dari tantangan di kelas, dan aku tidak akan lari dari tantangan di luar kelas. Apalagi saat harga diri Hana dipertaruhkan.”**
“Apa ini semua yang kamu miliki, Abi?” Yuda berkata dengan nada tenang namun menusuk. “Mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan masalahmu? Kalau begini caramu, kamu tidak lebih dari pengecut.”
Abi mendengus marah. “Berani sekali mulutmu! Kalian semua, ajari dia pelajaran!” serunya kepada teman-temannya.
Mereka mulai melangkah maju, mempersempit lingkaran di sekitar Yuda. Namun, Yuda tetap diam, hanya memasukkan tangannya ke dalam tas punggungnya.
“Sedang apa dia?” salah satu anak bertanya, tampak bingung.
Abi tertawa kecil. “Mungkin dia mau cari buku untuk menyerah. Si pintar akhirnya menyerah juga, kan?”
Namun, Yuda hanya tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia mulai memusatkan pikirannya pada gudang penyimpanan rahasianya, ruang tak kasat mata yang hanya ia yang dapat mengaksesnya. Dengan sedikit konsentrasi, ia membuka portal kecil di dalam tasnya. Tangan Yuda masuk, seolah meraba-raba sesuatu yang tidak terlihat.
**“Aku tidak bisa main-main dengan ini,”** pikir Yuda sambil mengingat isi gudangnya. **“Mereka butuh pelajaran, dan tongkat ini cukup untuk membuat mereka sadar.”**
Ketika Yuda menarik tangannya keluar, semua mata terbelalak. Sebuah tongkat baseball dengan desain hitam mengilap berada di tangannya, sesuatu yang jelas tidak mungkin muat dalam tas kecil yang ia bawa.
“Apa-apaan itu?” salah satu dari mereka berseru, kebingungan.
Yuda memutar tongkat itu di tangannya, mengayunkannya ke udara untuk mencoba keseimbangan. Suara angin yang dihasilkan ayunan tongkatnya membuat mereka yang semula percaya diri mulai ragu.
“Kalian seharusnya tahu,” ujar Yuda dengan nada dingin, menatap mereka satu per satu. “Aku bukan tipe orang yang bisa kalian remehkan.”
Abi melangkah mundur sedikit, tapi mencoba menyembunyikan kegentarannya. “Jangan takut! Dia cuma punya tongkat! Kita tetap lebih banyak!”
Namun, Yuda hanya tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia merancang setiap gerakan yang akan ia lakukan. **“Tiga belas orang. Mulai dari yang terdekat, lalu sisanya akan jatuh seperti domino.”**
Ketika salah satu anak mencoba menyerang lebih dulu, Yuda bereaksi dengan cepat. Ia menghindar ke samping, lalu mengayunkan tongkat ke arah kaki penyerangnya. Anak itu terjatuh dengan erangan kesakitan, membuat yang lain terkejut.
“Ayo, siapa berikutnya?” tanya Yuda, matanya bersinar tajam.
Abi mulai panik. “Cepat! Jangan biarkan dia menyerang lagi!”
Namun, serangan berikutnya dari dua orang sekaligus justru menjadi awal kehancuran mereka. Yuda dengan lincah mengayunkan tongkat ke arah salah satu tangan mereka, lalu memutar tubuhnya untuk menghindari pukulan yang lain. Dalam sekejap, dua orang itu terjatuh, memegangi tubuh mereka yang kesakitan.
**“Mereka terlalu mengandalkan jumlah, tapi tidak punya koordinasi,”** pikir Yuda sambil mengatur napas. **“Satu per satu, aku akan menghabisi mereka.”**
Lingkaran itu mulai pecah. Abi yang tadinya penuh percaya diri kini mulai kehilangan kendali. Ia hanya bisa menonton ketika teman-temannya jatuh satu per satu.
“Hentikan, Yuda!” Abi akhirnya berteriak, suaranya penuh ketakutan. “Kita bisa bicarakan ini!”
Namun, Yuda menghentikan tongkatnya di udara, hanya beberapa sentimeter dari wajah Abi. Dengan suara dingin, ia berkata, “Bicarakan? Seharusnya kamu memikirkannya sebelum melecehkan Hana.”
Abi tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ia hanya berdiri membeku, terengah-engah dengan keringat dingin di wajahnya.
Yuda menurunkan tongkatnya dan berjalan pergi tanpa melihat ke belakang. Dalam hatinya, ia tahu ini bukan akhir dari segalanya. **“Mereka mungkin akan mencoba lagi. Tapi selama aku ada, aku tidak akan membiarkan siapa pun bertindak semena-mena.”**
(To Be Continued...)

Komentar
Posting Komentar