Keterikatan Tak Terelakkan part 3

 




### **Bab 3: Kedatangan Para Penantang**  


Pagi itu suasana di SMPN 35 berjalan seperti biasa. Yuda, dengan gaya khasnya, tetap menjadi sosok yang disegani sekaligus inspirasi di kelas. Ia tidak pernah ragu maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal kuis, meskipun ia tahu tidak semua jawabannya akan benar.  


Saat pelajaran Matematika berlangsung, Bu Santi memberikan soal rumit yang memancing suasana tegang di kelas. “Siapa yang mau mencoba menyelesaikan ini di depan?” tanyanya sambil menatap para murid.  


Yuda mengangkat tangannya tanpa ragu dan maju ke depan. Ia mulai menulis langkah-langkah penyelesaian soal di papan tulis, tetapi pada langkah ketiga, ia salah menghitung. Tawa teman-temannya pecah, memenuhi ruangan.  


“Lihat tuh! Jagoan kita salah lagi!” celetuk salah satu murid.  


Namun, Yuda tetap tenang. Ia meletakkan kapur tulisnya, memutar tubuhnya, dan menatap kelas. “Baik, aku mungkin salah. Tapi apakah ada dari kalian yang berani maju seperti aku?” ucapnya dengan nada tegas.  


Hening. Tidak ada seorang pun yang menjawab, termasuk mereka yang tadi menertawakannya.  


Bu Santi tersenyum kecil, bangga dengan keberanian Yuda. “Lanjutkan, Yuda. Salah itu bagian dari belajar,” katanya lembut.  


Meski sering diolok, keberanian Yuda justru membuat banyak siswa kagum, termasuk Abi. Setelah kejadian kemarin, Abi mulai melihat Yuda sebagai seseorang yang berbeda. Dalam pikirannya, **“Dia bukan cuma berani secara fisik, tapi juga cerdas. Sosok seperti ini yang benar-benar pantas dihormati.”**  


---


Sore harinya, ketika Yuda sedang asyik berbincang dengan Aditio dan Atikah di kelas 7B, Abi tiba-tiba muncul di pintu. Wajahnya tampak tegang.  


“Yuda, kita perlu bicara,” ujar Abi dengan nada serius.  


“Ada apa?” tanya Yuda santai.  


“Salah satu orang yang kamu pukul kemarin ternyata lapor ke abangnya. Dan abangnya itu jagoan dari SMA Sandikta. Mereka berencana datang ke sini sore ini bawa 50 sampai 100 orang untuk menghajarmu,” Abi menjelaskan dengan nada cemas.  


Aditio dan Atikah langsung terlihat panik. “Yuda, kita harus kabur!” kata Aditio.  


Namun, Yuda hanya tersenyum tipis. Dalam pikirannya, **“Mereka pikir jumlah akan membuatku gentar? Salah besar.”**  


“Tidak perlu panik,” ujar Yuda tenang. “Kalau mereka datang, aku sudah siap.”  


Abi menggeleng. “Mereka bukan anak-anak SMP, Yud. Mereka jagoan SMA. Kamu nggak mungkin bisa melawan mereka semua.”  


Yuda hanya menjawab dengan nada dingin, “Kita lihat saja nanti.”  


---


Jam pulang tiba. Saat Yuda hendak meninggalkan kelas 7B bersama Aditio dan Atikah, langkah mereka terhenti oleh suara gemuruh di luar. Dari jendela, mereka bisa melihat puluhan hingga ratusan siswa SMA memasuki halaman sekolah. Mereka datang dengan seragam khas SMA Sandikta, wajah mereka penuh amarah.  


“Yuda, itu mereka!” bisik Atikah, suaranya bergetar.  


Abi muncul dari belakang mereka. “Aku bilang juga apa, Yud! Mereka datang dengan serius!”  


Namun, Yuda tetap tenang. Ia berjalan perlahan ke arah meja di pojok ruangan. Tangannya masuk ke dalam tasnya, tetapi kali ini ia mengakses gudang rahasianya. Dengan konsentrasi penuh, ia menarik keluar sebuah selang besar yang terhubung dengan tabung gas air mata.  


Abi melongo. “Dari mana kamu mendapatkan itu?” tanyanya terkejut.  


Yuda hanya tersenyum samar. “Aku punya caraku sendiri.”  


Saat pintu kelas terbuka dan gerombolan SMA itu mulai memasuki ruangan, pemimpin mereka—seorang siswa bertubuh kekar dengan wajah penuh bekas luka—berdiri di depan.  


“Kamu Yuda?” tanyanya dengan nada mengejek.  


“Ya,” jawab Yuda tanpa gentar.  


“Kau pikir bisa lari dari ini? Sekarang bayar harga atas apa yang kau lakukan!” seru pemimpin itu.  


Namun, sebelum mereka bisa mendekat, Yuda dengan cepat menyemprotkan gas air mata ke arah mereka. Asap putih menyelimuti ruangan, membuat para siswa SMA itu batuk-batuk dan menutup mata mereka yang perih.  


“Apa-apaan ini?!” teriak salah satu dari mereka.  


Dalam pikirannya, Yuda berkata, **“Mereka datang dengan kekuatan, tapi lupa bahwa strategi lebih penting.”**  


Dengan gerakan cepat, Yuda mulai melumpuhkan mereka satu per satu. Tongkat baseball yang ia keluarkan dari gudangnya kembali digunakan untuk menjatuhkan para penyerang. Setiap pukulan menghantam dengan presisi, membuat mereka yang mencoba bangkit kembali langsung tumbang.  


Abi dan yang lainnya hanya bisa menyaksikan dari belakang dengan penuh kekaguman. Dalam hati Abi berpikir, **“Orang ini benar-benar luar biasa. Bahkan menghadapi 100 orang pun dia tidak mundur.”**  


Satu per satu, para siswa SMA itu tergeletak di lantai. Pemimpin mereka mencoba menyerang dari belakang, tetapi Yuda memutar tubuhnya dengan cepat, menyemprotkan gas air mata langsung ke wajahnya.  


“Aku sudah bilang, aku tidak mudah diremehkan,” ujar Yuda dingin.  


Setelah semuanya selesai, Yuda berdiri di tengah ruangan dengan napas terengah-engah. Ia menatap mereka yang masih mengerang kesakitan di lantai. Dalam hatinya, ia berkata, **“Jumlah dan kekuatan bukan segalanya. Selama aku berdiri, aku akan melindungi mereka yang penting bagiku.”**  


Abi mendekat, masih terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. “Yuda... kamu benar-benar bukan manusia biasa.”  


Yuda hanya menatapnya sejenak dan berkata, “Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan.”  


(To Be Continued...)  

Komentar